Wisata Belanja Batik di Solo: Batik Motif Klasik Adiluhung Khas Keraton Kasunanan ala Kampung Batik Kauman

0
592

Menyebut kampung Kauman, kita bisa menemukan puluhan tempat bernama Kauman tersebar khususnya di Jawa. Namun, di Solo ada Kampung Batik Kauman, yang merupakan destinasi wisata belanja, wisata edukasi, serta wisata sejarah dan budaya, khas dengan karya batik klasik motif pakem gaya Keraton Solo.

kampung-baatik-kauman5

Kampung ini terletak di dekat Masjid Agung Solo dan Alun-Alun Utara Solo. Jadi, jika Anda berkunjung ke Pasar Klewer, Gladag atau Titik Nol Kilometer Solo, Pusat Grosir Solo (PGS), atau Beteng Trade Center (BTC) cukup dengan menggunakan becak atau berjalan kaki, Anda bisa menyusuri lorong gang sempit dengan beberapa showroom toko batik di Kampung Batik Kauman.

kampung-baatik-kauman4

Keistimewaan Kampung Batik Kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari dalam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pasalnya, masyarakat kaum (abdi dalem) yang menghuni sebagian besar kampung ini dahulu mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk membuat batik. Keberadaan Kampung Batik Kauman ini sangat lekat dengan Keraton Kasunanan Surakarta.

Mau belajar membatik? Di sini tempatnya!

Kampung Batik Kauman terdiri lebih dari 30 toko batik dengan beragam pilihan batik yang ditawarkan. Selain toko, di Kampung Batik Kauman ini Anda dapat menjumpai secara langsung proses pembuatan batik, bahkan dapat ikut turut serta untuk membuatnya sendiri. Satu kegiatan wisata edukasi bagi anak bangsa untuk melestarikan batik tidak hanya dengan mengenakannya, namun juga mengetahui cara dan proses pembuatannya.

kampung-baatik-kauman6

Memegang canting, melukis dengan malam, membatik di kain mori, juga mewarnainya hingga benar-benar menjadi sebuah kain batik. Seru, kan? Family time dengan berwisata edukasi sekaligus dapat berburu batik khas Solo untuk tampil modis. Salah satunya terdapat di Batik Gunawan Setiawan.

Di Kampung Batik Kauman, Anda dapat pula mengetahui filosofi apa saja yang terkandung dalam lukisan batik terutama motif pakem yang kerap digunakan oleh keraton. Motif pakem di antaranya motif parang. Seiring berkembangnya waktu, motif ini digunakan oleh semua kalangan.

kampung-baatik-kauman7

Motif parang mengambil dasar dari lukisan laut (air), motif gringsing mengambil motif dari binatang yang hidup di air atau laut (ikan). Motif induk lain yaitu ceplokan, dapat kita temui motif ceplok manggis, ceplok manuk miber, ceplok kupu, bolu rambat, Satriyo Wibowo, Madu Bronto, Panji Pinilis, Purbangkoro dan Ceplok Dempel. Dari motif ‘kawungan’, dengan beragam pula motif, pola, corak dan warna. Yang masing-masing dari motif, pola,corak dan warna memiliki filosofi baik cerita pembuatannya hingga doa yang terselip di dalam motif bagi penggunanya.

kampung-baatik-kauman-2  

Mengutip dari Madjalah Batari 1959, Wonderful Solo mendapati adanya salah satu cerita di balik filosofi batik parang, khususnya ‘parang rusak’. Nama ‘parang rusak’ menurut buku “De Indlandsche Kunstnijverheidin Nederlansch-Indie” halaman 155 karangan J.E. Jasper dan M. Pirngadi deel III mulanya Sri Sultan Agung pada suatu ketika berburu ke pantai Selatan. Saat itu, beliau melihat karang-karang yang rusak diterpa ombak atau air laut hingga rusak karang tersebut. Melihat hal itu, Sri Sultan Agung memerintahkan kepada anak buahnya agar membuat pola batik yang kemudian dinamakan ‘parang rusak’.

Masih banyak lagi jenis motif parang ini di antaranya, parang rusak barong, parang klitik, parang kesuma, parang baris, parang cantel, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kauman Solo dari Segi Historis

Kampung Kauman secara legendaris merupakan wilayah yang dihuni oleh masyarakat beragama Islam. Dalam beberapa referensi disebutkan, Kauman berasal dari kata qaaimuddin yang memiliki arti orang-orang yang menegakkan agama Islam.

Karena lidah orang Jawa sulit mengucapkannya, maka berubah menjadi ‘kaum’. Ketika para kaum berdiam di suatu tempat maka muncul istilah Pakauman atau lebih dikenal Kauman untuk menyebut tempat itu. Nama Kauman sendiri berasal dari kata ”kaum sing aman” (kaum = qoum = tempat tinggal orang Islam). Jadi Kauman bisa bermakna tempat tinggal masyarakat Islam yang aman.

Dahulu sekitar tahun 1757 Masehi, Raja Paku Buwana III mendirikan Masjid Agung. Pada masa itu, Kampung Kauman yang letaknya di belakang Masjid Agung memang merupakan sebuah daerah khusus yang disebut bumi mutihan atau pametakan, yakni wilayah yang hanya dihuni kawula dalem khusus yang beragama Islam. Kanjeng Kiai Pengulu (KKP) Mohammad Thohar Hadiningrat dipilih sebagai pimpinannya.

KKP Mohammad Thohar Hadiningrat dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Ketib atau Khotib, yang bertugas memberikan ceramah atau khotbah Jumat dan iman salat lima waktu. Kemudian Modin dibantu Qoyim, bertugas memukul bedug sebagai tanda waktu salat wajib, tukang mengumandangkan azan dan sebagai juru nikah serta hal-hal yang berkaitan dengan kematian. Merbot, bertugas sebagai tukang bersih-bersih, mengelola kebersihan masjid, penyedia air, serta perkakas salat masjid.

Sebagai kampung bentukan raja yang mempunyai simbol sebagai Sayidin Panatagama, Kauman dikenal sebagai kampung santri hingga sekarang. Salah satu yang dimiliki Kauman adalah peninggalan masjid dan langgar yang bangunannya memiliki ciri khas yang tak bisa dipisahkan dengan bangunan keraton Kasunanan Solo, yakni Jawa klasik. Perpaduan antara gaya Eropa abad pertengahan dengan gaya Jawa yang sarat dengan kayu-kayu berukir. Peninggalan yang masih bisa disaksikan adalah masjid Sememen yang dulu difungsikan sebagai langgar.

Kampung Batik Kauman : Tradisi Batik Motif Klasik Adiluhung Khas Keraton Kasunanan

Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap dan model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan merupakan produk unggulan kampung batik kauman.

kampung-baatik-kauman9

Di samping produk batik, kampung Kauman juga terdapat bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang di tengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat di sekitar kampung kauman.

Sampai saat ini para pengusaha batik di Kampung Kauman tetap meneruskan apa yang dilakukan pendahulu mereka, yaitu nguri-uri warisan budaya bangsa yang bernilai tinggi dengan tetap memproduksi batik pakem, batik tradisional yang bernilai cita rasa tinggi, kaya motif dan sarat makna filosofis harapan dan doa pada Allah SWT. Eksplorasi motif batik kontemporer sebagai karya baru pun dilakukan untuk menyesuaikan dengan dinamika perkembangan zaman.

kampung-baatik-kauman3

belajar-edit

Penasaran dengan Kampung Batik Kauman yang sarat akan filosofi batik motif pakem khas Keraton Solo?

Ayo ke Solo!

 

(Disarikan dari beberapa sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here