Sebuah Catatan dari Pesona Sangiran Kampung Purba

0
70

Jutaan tahun silam, tersimpan riwayat panjang kehidupan masa lalu. Alam, tanah, dan manusia mulai dari asal usulnya, lingkungan tempat tinggal, kehidupan, hingga sebab musabab kepunahannya. Usaha besar dan kerja keras tak kenal lelah bagi perjalanan panjang pencarian mata rantai yang hilang (missing link). Situs penting serta kiblat bagi perkembangan ilmu pengetahuan mengenai evolusi manusia secara lengkap itu, bernama: Sangiran.

Jika terdapat temuan ilmuan tentang cara tuk lupakan masa lalu, rasanya pengecualian bagi satu daerah di Utara Solo ini. Sragen tepatnya, terdapat kenangan tak kunjung usai yang tertimbun dalam. Pada lapisan-lapisan tanah berumur jutaan tahun, tersimpan cerita panjang yang amat bernilai. Bagaimana mau lupa? 52 km² area di Sangiran menyimpan sejarah panjang tentang kehidupan masa lalu. Kehidupan masa purba.

Daerahnya kering, namun subur. Banyak lahan dan ladang luas dengan angin yang bertekanan cukup tinggi. Dominasi masyarakat agraris, di area lahan yang merupakan area konservatif. Area dimana jutaan tahun lalu terdapat catatan kehidupan tentang manusia purba.

Museum Manusia Purba Sangiran, Krikilan, Sragen, Jawa Tengah.

Sangiran, yang bagi sebagian masyarakat, hanyalah dikenal sebuah museum berisi tulang-tulang manusia purba, kini beranjak mempercantik diri. Situs Manusia Purba Sangiran ini telah diakui dunia sebagai world heritage pada tahun 1996. Beberapa tahun silam, Museum Sangiran belum menarik minat para pengunjung untuk mempelajari sejarah kehidupan masa lalu. Benar saja, “Dulu Sangiran cuma kayak rumah biasa, gitu. Gak menarik”. Itu dulu Guys.

Sebelum berdiri megah museum di Sangiran, memang museum Sangiran hanya merupakan tempat fosil-fosil dikumpulkan. Fosil yang disebut masyarakat Sangiran sebagai “balung buto”, mereka setorkan pada Mbah Toto Marsono untuk dipilah apakah masuk sebagai klasifikasi fosil hominid ataukah bukan menurut von Koenigswald. Hasil temuan yang mereka dapatkan diberi imbalan obat yang dibutuhkan masyarakat lokal Sangiran. Beberapa dari mereka bahkan mendapat imbalan sejumlah uang.

Museum Manusia Purba Sangiran (The Homeland of Java Man)

Para warga lokal Sangiran sangat erat dengan perjalanan pencarian fosil. Mereka menjalani kehidupan di Sangiran dan tak terlepaskan dari aktivitas mengumpulkan fosil dan artefak secara turun temurun. Tak salah jika hal-hal yang berkaitan langsung tentang temuan, mereka hafal persis dari mana saja lokasi temuan, mana yang fosil atau bukan, masuk dalam formasi lapisan tanah mana, dan memperkirakan berapa umur fosilnya. Kemampuan mereka terasah dari learning by doing serta berbaur langsung dengan peneliti luar dari beberapa bidang, baik arkeologi, geologi, paleantologi, dan disiplin ilmu lain.

Ekskavasi di Sangiran (Dokumentasi PREHSEA)

Keunikan Sangiran Kampung Purba

Berkunjung ke World Heritage lain di Indonesia, ada salah satunya Borobudur. Cagar Budaya ini tentu telah dikenal luas. Berbeda dengan kawasan Sangiran. Semenjak ketetapan UNESCO lalu 1996 sebagai world heritage, Sangiran ini memiliki keunikan di tengah pesonanya.

Peta Sangiran

Keunikan Situs Manusia Purba Sangiran adalah sebagai warisan dunia yang berada di dalam wilayah hunian penduduk. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Situs Sangiran,masyarakat di sekitar Sangiran, tinggal dan hidup di dalamnya. Gotong royong dan rasa memiliki akan Sangiran, menggugah masyarakat untuk peduli di tengah berbagai peluang dan hambatan dalam memajukan perekonomian masyarakat. Nilai edukasi, sosial, ekonomi dan budaya dari Situs Sangiran terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Jawa yang agraris.

Di antaranya ada Sadiman (dikenal dengan nama Subur) dan juga Sutanto. Warga lokal Sangiran ini menjadi orang yang berada di barisan depan dalam melestarikan Sangiran. Sedari kecil, mereka terlibat beberapa aktivitas peneliti di lokasi ekskavasi atau penggalian. Bahkan, sebelumnya orang tua mereka yang terlibat untuk membantu kebutuhan para peneliti. Selain itu, mereka juga menjadi local guide dan pencari fosil juga. Tak jarang bahkan sempat terlibat beberapa aktivitas penjualan ilegal. Jangan salah sangka, meski berawal dari ketidaktahuan akan berharganya aset di Sangiran, kini mereka justru berada di garda depan dari warga lokal yang menyuarakan ide dan gagasan mereka untuk menjadikan Sangiran lebih dikenal publik.

Langkah nyata yang dilakukan Subur dan Tanto semakin diperkuat dengan perjalanan mereka ke Filiphina bersama Prehsea (Prehistoric Heritage In Southeast Asia). Kumpulan beberapa peneliti dari berbagai daerah di Asia Tenggara, melakukan kegiatan yang berkaitan dengan upaya menjaga warisan dunia dari masa pra-sejarah. Salah satunya Dr. Andri Purnomo dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Kegiatan Prehsea pun menjembatani masyarakat untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang keilmuan yang berkaitan dengan Sangiran dan komponen yang menaungi Sangiran dalam rangka kebijakan publik.

Prehsea saat acara pertemuan di Filiphina (Dok.PREHSEA)

Perjalanan bersama Prehsea tersebut membuka mata dan pikiran akan pentingnya situs Sangiran. Keduanya (Subur dan Tanto) bersepakat mewujudkan ide dan harapan mereka untuk ikut melestarikan dan menjaga Situs Sangiran demi generasi masa depan.

Pak Subur dan Pak Tanto adalah sebagian dari masyarakat Sangiran yang peduli terhadap Situs Sangiran. Tak berjalan sendirian, Museum Sangiran kini  dikelola oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Perlakuan terhadap temuan fosil di Laboratorium Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Tempat penyimpanan fosil temuan (Storage) BPSMPS

BPSMPS bertanggungjawab terhadap konservasi temuan di Situs Sangiran. Bersama-sama dengan BPSMPS dan juga Dinas terkait di Sragen dan Karanganyar, Sangiran mulai berbenah menuju Sangiran yang memberi nilai dan manfaat bagi khalayak ramai.

Sejarah Temuan Fosil di Sangiran

Lihat video selengkapnya di Sangiran Part 1: Menelisik Sejarah Asal Usul Manusia di Museum Sangiran Sragen – SOLO 24 JAM

Bermula dari penemuan peneliti dari Jerman GHR. von Koenigswald tahun 1934, ditemukan fosil Pithecantropus Erectus. Fosil-fosil hominid dari Sangiran didominasi oleh temuan tanpa sengaja oleh penduduk setempat saat mereka menggali tanah, maupun bekerja di kebun atau sawah. Dari warga lokal Sangiran, temuan-temuan dikumpulkan di rumah mbah Toto Marsono, kepala desa di salah satu area Sangiran.

Museum Sangiran memang dahulu hanya sebuah hunian masyarakat lokal yang dijadikan tempat pengumpulan fosil-fosil temuan. Mbah Toto Marsono, menghimpun dan menyimpan temuan warga. Makin hari, makin bertambah temuan tersebut tak mampu ditampung di rumah Toto Marsono.

Tampak Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan dan Museum Sangiran saat tahun 1984-2008

Hingga akhirnya pada tahun 1977, Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa Sangiran sebagai Cagar Budaya. Pada tahun 1988, sebuah situs museum dan konservasi laboratorium lokal sederhana didirikan di Sangiran sebagai bentuk penyelamatan fosil purba kala. Hingga pada 1996, Sangiran ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia di tahun, The Sangiran Early Man Site.

Sekarang, jika kamu berkunjung ke Sangiran, ada satu museum induk di daerah Krikilan, Kalijambe, Sragen. Museum ini berisi beragam koleksi yang telah disajikan secara modern dalam rangka edukasi dan informasi bagi pengunjung museum. Temuan-temuan fosil maupun artefak, baik dari temuan warga maupun peneliti, dikelola di museum oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Selain museum induk atau utama di Sangiran, terdapat klaster-klaster yang dibangun untuk menunjang museum utama. Terdapat lima klaster pengembangan Sangiran sebagai Destinasi Wisata Dunia.

  1. Klaster Krikilan (Pusat informasi tentang kehidupan manusia purba, tidak hanya di Sangiran melainkan di Indonesia)
  1. Klaster Ngebung (Informasi tentang sejarah penemuan Situs Sangiran sejak ditemukannya alat-alat serpih yang pertama oleh G.H.R Von Koniegswald (1934) dan fosil manusia purba pertama (1936))
  1. Klaster Bukuran (Informasi tentang evolusi manusia secara lengkap)
  1. Klaster Dayu (Informasi tentang penelitian-penelitan mutakhir)
  1. Klaster Manyarejo (Informasi tentang penelitian lapangan dan temuan warga lokal)

Bukan hanya museum saja yang bisa membuat kita berdecak kagum akan pesona Sangiran Kampung Purba. Datang langsung ke lokasi temuan, dan nikmati sensasi seakan menjadi detektif zaman purba dengan menyusuri pedesaan yang penuh akan kekayaan informasi mengenai kehidupan manusia jutaan tahun lalu.

Lihat video selengkapnya di Sangiran Part 1: Menelisik Sejarah Asal Usul Manusia di Museum Sangiran Sragen – SOLO 24 JAM

Koleksi di satu sudut Museum Sangiran

Pernah tahu nggak, kalau lokasi di Sangiran, meski sedikit terpencil, area ini seperti harta karun besar untuk laboratorium dunia. Di dalam timbunan tanah berusia 2 juta tahun lalu itu, banyak hal yang bisa ditemui.

Salah satu lokasi di Dusun Bapang merupakan kawasan Sangiran terbentang sungai dan irigasi, di Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen. Penemuan pertama kali di Sangiran, adalah Pithecantropus Erectus.

Pithecantropus Erectus dicetuskan oleh peneliti Jerman bernama Von Koenigswald. Di tahun 1932, seorang warga lokal Sangiran bernama Mbah Sumo Kenthing menemukan fosil tengkorak. Penemuan tidak komplit, masih diragukan apakah manusia atau bukan. Diperkirakan manusia karena bentuk muka dan dahi menyerupai manusia. Tetapi, ketebalan otak hanya 900 cc seperti otak kera. Hal inilah yang membuat Von Koenigswald memberi nama Pithecantropus Erectus (manusia setengah kera) di tahun 1936. Dari sungai inilah bermula pencarian fosil hewan, batuan, dan manusia. Masyarakat akhirnya dapat memahami tentang benda-benda prasejarah.

Satu dari temuan yang masterpiece adalah Sangiran 17 atau S17, kita kenal sebagai Homo erectus. Sangiran 17 adalah temuan fosil tengkorak Homo Erectus paling terkenal di dunia. Temuan ini relatif lengkap sehingga wajah Homo Erectus dapat direkonstruksi secara utuh. Duplikat S17 ditemukan hampir di seluruh museum-museum prasejarah utama di dunia.

Lokasi penemuan Sangiran 17 (S17) di aliran Kali Pucung

Lokasi temuan masterpiece Sangiran fosil tengkorak Homo Erectus atau Sangiran 17 di kawasan Kali Pucung. Perjalanan menyusuri aliran sungai Pucung membawa kita pada atmosfer detektif zaman purba. Pentingnya kehadiran lokasi ekskavasi Pucung di Sangiran menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah laboratorium penelitian dunia. Banyak peneliti yang datang ke Sangiran untuk belajar mengenai evolusi kehidupan manusia dari berbagai disiplin ilmu.

Salah satu lokasi ekskavasi didirikan museum rintisan sebagai field international school yang terletak di aliran sungai Kali Pucung. Terdapat temuan beberapa artefak dan fosil hewan juga manusia purba. Selain itu terdapat pula goa di dekat aliran Sungai Pucung, tak jauh dari area tersebut terdapat sebuah goa. Terlepas dari dunia ilmiah ekskavasi, di goa ini berkembang beberapa mitos masyarakat Sangiran.

Lihat video selengkapnya di Channel Youtube Wonderful Solo.

Susur Sungai Kali Pucung di Sangiran
Museum Nano atau PCTS Pucung Tanah Subur. Di sini didirikan museum rintisan, salah satu lokasi ekskavasi dan menjadi field school international. Daya tarik dan pesona Sangiran menjadi laboratorium penelitian dunia.

Menelusuri jejak penemuan manusia purba yang terserak, membuat Sangiran semacam ‘tambang’ fosil dan laboratorium dunia dalam ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan. Beberapa monumen didirikan untuk menghargai para penemu di lokasi temuan, dan spesimen yang ditemukan seperti Sangiran 27 atau S27 kita kenal sebagai Meganthropus Palaeojavanicus. Fosil ditemukan di tanah bongkahan hasil penggalian saluran Bapang tahun 1978. Tanah hasil penggalian dibuang ke arah selatan dari kanal. Penduduk setempat bernama Suherman dari dukuh Ngampon ketika mencari jangkrik dan rumput menemukan fosil di tanah bongkahan hasil penggalian tersebut. Temuan dilaporkan ke Kepala Desa, Toto Marsono. Saat ini fosil S27 dikonservasi di Laboratorium Paleoanthropologi dan Bioanthropologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Monumen Lokasi Penemuan S27 atau Megantropus Palaeojavanicus di Saluran Bapang.

 

Pesona Kubah Sangiran di Kampung Purba

Sangiran yang kita lihat sekarang ternyata pernah menjadi lautan. Mata air asin dijumpai di tengah ladang kurang lebih 600 m Timur Laut Museum Sangiran, Dusun Pablengan. Sumber air laut yang bercampur dengan lumpur vulkanik menjadi bukti bahwa Sangiran dahulu merupakan lautan. Fosil-fosil seperti cangkang kerang, gigi-gigi ikan hiu, cangkang kura-kura laut, koral dan lain sebagainya yang ditemukan pada lapisan lempung biru. Selain bukti-bukti fosil fauna laut, terdapat sumber air laut yang bercampur dengan lumpur vulkanik. Kini masih dapat dilihat di dusun Pablengan, di dekat museum Sangiran.

Mata air asin di Pablengan Sangiran Kampung Purba

Kenapa bisa begitu ya? Sangiran juga disebut dengan Kubah Sangiran. Jadi, secara geomorfologis, kubah Sangiran terbentuk oleh proses pengangkatan akibat tenaga endogen dan kemudian bagian puncak kubah terbuka melalui proses erosi, sehingga membentuk cekungan besar di pusat kubah yang diwarnai oleh perbukitan bergelombang. Ada daerah lautan, rawa, daratan, dan teras.

Pada cekungan itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau, ditinjau dari aspek paleoantropologis, paleontologist, geologis, maupun arkeologis.

Mata air asin di Pablengan Sangiran Kampung Purba

Pada awalnya, Sangiran merupakan daerah datar. Endapan-endapan dari bermacam-macam material membentuk lapisan tanah berusia jutaan tahun. Di setiap lapisan tersebut terdapat berbagai kehidupan, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Kemudian terjadi aktivitas geologi hingga terbentuk kubah di Sangiran. Pada akhirnya, puncak kubah terkikis erosi.  Sisa kehidupan masa lalu kemudian ditemukan di permukaan tanah.

Dalam kenyataannya, bio-stratigrafis atau lapisan tanah yang kini tampak di Sangiran telah sanggup bercerita mengenai banyak perubahan lingkungan yang terjadi. Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Grenzbank, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro. Masing-masing formasi memiliki usia bervariasi. Sangiran dan lapisan tanah penentu waktu merupakan aset sangat berharga bagi pemahaman kehidupan manusia selama Kala Plestosen di dunia.

Selama kurang lebih 2,4 juta tahun, telah terbentuk lima formasi tanah di Sangiran, yaitu

  1. Formasi Kalibeng (2,4 juta tahun silam),
  2. Formasi Pucangan (1,8 juta tahun silam),
  3. Grenzbank (900.000 tahun silam),
  4. Formasi Kabuh (700.000 tahun silam), dan
  5. Formasi Notopuro (250.000 tahun silam).

Berbagai titik penemuan kian hari, kian bertambah seiring perkembangan penelitian dari beragam disiplin ilmu. Identifikasi, klasifikasi, dan konservasi dilakukan terhadap fragmen fosil maupun artefak temuan peneliti maupun masyarakat lokal. Beberapa monumen didirikan untuk menghargai temuan warga lokal dan penelitian, kunjungan lapangan wisatawan juga dimudahkan dengan adanya monumen-monumen di Sangiran tersebut. Terdapat beberapa monumen, di antaranya:

Monumen Drepo. Monumen ini berada di Dusun Drepo, Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen. Di lokasi ini tersingkap endapan lempung hitam Formasi Pucangan. Pada Kala Plestosen Bawah di lingkungan Sangiran mulai berubah dari lingkungan laut menjadi lingkungan rawa. Di lokasi ini banyak ditemukan fosil binatang yang hidup di rawa seperti buaya, kura-kura, kuda sungai, dan berbagai jenis moluska. Selain fosil binatang di sekitar lokasi ini juga ditemukan manusia purba Homo erectus.

Monumen Mawardi. Monumen ini berada di Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen. Di lokasi ini tersingkap lapisan pasir fluvio vulkanik.Formasi Kabuh yang mencirikan lingkungan pada Kala Plestosen Tengah. Pernah ditemukan fosil tengkorak manusia purba Homo erectus, oleh Mbah Mawardi saat menggarap ladangnya tahun 1995 dan 1997.

Monumen Trianggulasi. Monumen ini didirikan di titik trianggulasi yang merupakan titik tertinggi di Kubah Sangiran. Lokasi ini ditemukan alat batu hasil budaya manusia purba di Sangiran tahun 1934.

Wonderful Sangiran: Oase di tengah Masyarakat Peduli Pariwisata

Membaca potensi Sangiran, masyarakat yang menamakan diri sebagai Wonderful Sangiran menggagas berdirinya Kelompok Sadar Wisata dengan beragam kegiatan dalam memupuk kebersamaan warga. Sebagai warisan dunia, Situs Sangiran merupakan destinasi pariwisata dunia yang bertumpu pada daya tarik dan informasi peradaban dunia.

Video selengkapnya : Sangiran Part 2: Wisata Warisan Dunia Yang Ramah Nilai – SOLO 24 JAM 

Selain dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium dan pusat informasi untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan. Situs Sangiran harus mampu memberikan nilai manfaat bagi masyarakat sekitar sebagai destinasi wisata. Kini, Sangiran beranjak menjelma destinasi pariwisata dunia yang bertumpu pada daya tarik dan informasi peradaban dunia.

Pengrajin Batu Souvenir Khas Sangiran Kampung Purba

Seiring berkembangnya waktu, Situs Sangiran berbenah dan kian berubah wajah. Pembangunan di berbagai sektor,memicu pembangunan infrastruktur seperti akses jalan,maupun fasilitas penunjang lainnya. Perkembangan pariwisata dapat menjadi faktor pendorong majunya masyarakat yang sejahtera, melalui sektor industri ekonomi kreatif. Pesona Situs Sangiran tak lepas dari pemberdayaan masyarakat ekonomi kreatif baik berupa kerajinan, kesenian, kebudayaan serta kearifan lokal.

 

Potensi ekonomi kreatif di tengah tanggungjawab dan partisipasi masyarakat pun  kian diperkuat dengan adanya peran pemerintah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Selain museum induk Sangiran di Museum Krikilan,wisatawan dapat berkunjung ke klaster museum lainnya, seperti Klaster Ngebung,Klaster Dayu, Klaster Bukuran dan Klaster Manyarejo.

Wisatawan dapat melihat temuan dan sejarah kehidupan masa lalu secara lengkap, yang disajikan secara aktraktif menarik, dan modern dalam rangka edukatif dan informatif. Klaster Ngebung tentang sejarah penemuan situs. Klaster Dayu tentang timeline usia tanah. Klaster Bukuran tentang evolusi manusia. Klaster Manyarejo tentang presentasi penelitian ekskavasi.

Kehadiran museum di tengah masyarakat Sangiran memberi berbagai dampak baik aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Terdapat beberapa masyarakat yang dengan membaca potensi peluang dan hambatan melakukan aktivitas yang memberdayakan diri secara ekonomi.

Terdapat beragam ciri khas Sangiran yang dapat menjadi cinderamata atau oleh-oleh. Industri di masyarakat berkembang di antaranya terdapat Sentra Kerajinan Batu yang terletak di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Ada juga Kerajinan Batik di Sangiran di Dusun Pungsari, Kecamatan Plupuh, Sragen. Selain itu ada pula Kerajinan Kancing Batok Kelapa di Desa Sendang, Bukuran, Sragen. Sangat menarik menjadi paduan yang tepat bagi kawasan yang bernilai dalam bidang pariwisata.

Kerajinan Batu Kapak Perimbas Souvenir khas Sangiran
Kesenian Batik Khas Sangiran Kampung Purba

 

Kesenian Batik Khas Sangiran Kampung Purba
Proses Pembuatan Kancing Bathok Kelapa di Sangiran
Proses Pembuatan Kancing Bathok Kelapa di Sangiran
Kerajinan Kancing Bathok Kelapa di Sangiran

Beberapa kunjungan wisatawan dapat bermanfaat dalam mempelajari masa lalu untuk belajar menata masa depan. Wisatawan dapat berkunjung ke lokasi-lokasi temuan di Sangiran, dan destinasi lain yang berdiri di Menara Pandang Sangiran, yaitu Rumah Baca Sangiran.

Kegiatan kesenian pun berkembang di masyarakat Sangiran. Paguyuban yang bernama Teater Sangir mengembangkan Seni Gejug Lesung khas Sangiran.

Kesenian ‘Gejug Lesung’ Teater Sangir
Kesenian ‘Gejug Lesung’ Teater Sangir

Video selengkapnya Sangiran Part 3: Perkembangan Sektor Ekonomi Kreatif di Sangiran – SOLO 24 JAM

Epilog: Menuju Sangiran yang Lebih Baik

Penelusuran sejarah panjang kehidupan masa lalu, seakan tanpa batas di tengah masyarakat yang berdaya dan mampu menghargai sumber daya miliknya sendiri. Kesadaran, kemampuan dan partisipasi semua segmen masyarakat dapat menunjang kemajuan dan kebaikan bersama. Hubungan erat antara masyarakat, dan peran serta seluruh komponen yang melingkupinya dalam mengelola Sangiran, melindungi dan menjaga kesinambungan warisan evolusi alam dan umat manusia.

Penemuan pun tak kan pernah usai dalam sebuah laboratorium besar dunia bernama Sangiran. Riwayat tak sesaat dan sejarah panjang kehidupan masa lalu sejatinya berjalan selaras dan harmoni. Sinergi berbagai komponen masyarakat yang menghuni area konservasi mewujudkan warisan dunia kebanggaan Indonesia. Minat, semangat, dan kecintaan masyarakat tumbuh akan pesona warisan dunia milik Sangiran, di tanah milik kita, tanah Indonesia.

Lestari sejarah alam dan budaya di Sangiran, menuju destinasi pariwisata yang ramah lingkungan dan ramah masyarakat. Mewujudkan Sangiran yang mampu memberi nilai dan manfaat tanpa merusak lestarinya cagar budaya masa lalu, bagi kehidupan masa kini, untuk generasi masa depan. Tugas kita bersama untuk menjaga, merawat dan menghargai warisan milik kita, milik Indonesia.

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

 

Video Lengkap Dokumenter Sangiran Kampung Purba 

Sangiran Part 1 (Menelisik Sejarah Asal Usul Manusia di Museum Sangiran Sragen)

Sangiran Part 2: Wisata Warisan Dunia Yang Ramah Nilai

Sangiran Part 3: Perkembangan Sektor Ekonomi Kreatif di Sangiran

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here