Production Diary Solo 24 Jam – Explore Wonogiri Part #1

0
328

“Wonogiri Hills – Menikmati Besek, Pagi Di Cumbri Dan Secokro Yang Ramah”

Kami memasukkan Wonogiri sebagai destinasi yang akan diulas di Solo 24 Jam episode April 2017. Sejak awal, kami sudah sangat bersemangat. Kami yakin perjalanan kali ini akan sangat seru dan menyenangkan. Bayangan akan beberapa spot menarik yang akan dikunjungi menggugah selera. Namun ternyata kami salah. Wonogiri tidak seru dan menyenangkan, melainkan seru dan menyenangkan sekali! Simak ceritanya di bawah ini.

 

Perjalanan dimulai di Jumat pagi yang cerah, 7 April 2017. Tim berkumpul di hotel Megaland, Slamet Riyadi. Kami semua menanti armada yang akan membawa kami ke Wonogiri, yaitu sebuah bis doubledecker dari Agramas. Tepat pukul 8 pagi, bis yang dinanti pun hadir. Sosoknya gagah, tinggi dan besar dengan warna merah menyala. Fasilitas yang tersedia di dalam bis pun tergolong mewah. Kami terpukau. Tur singkat ke dalam kompartemen bis meyakinkan kami kalau perjalanan ke Wonogiri yang akan ditempuh sekitar satu jam pasti tidak akan terasa melelahkan. Benar saja. Bis meninggalkan Solo sekitar jam 9. Satu setengah jam kemudian, kami sudah tiba di jantung Wonogiri.

 

Setibanya di jantung kota Wonogiri, kami berpisah dengan awak media dan penumpang lainnya yang ikut bersama rombongan kami. Mereka kembali ke Solo sementara kami bertolak ke Purwantoro. Perjalanan kembali memakan waktu selama satu setengah jam. Kami sempat berhenti sejenak untuk melakukan ibadah solat Jumat sebelum akhirnya mencapai titik temu di hotel Merista Raya. Perjalanan darat selama tiga jam membuat perut kami menggeram. Kami memutuskan untuk melepas lelah sambil makan siang di hotel.

Setelah amunisi terisi dan wajah kami kembali segar, kini saatnya menuju destinasi pertama di Purwantoro: gunung Besek. Dari hotel kami menuju ke kantor Kecamatan Purwantoro. Di sana sudah menunggu beberapa orang dari dinas pariwisata Wonogiri yang akan menemani kami ke Gunung Besek. Perjalanan menuju Besek cukup menantang. Kami melewati jalan setapak yang hanya cukup untuk satu mobil dan satu motor dengan medan yang berkelok dan menanjak. Suasana menjadi cukup tegang sepanjang perjalanan. Namun semua itu bisa ditutupi dengan pemandangan asri khas pegunungan. Kami memutuskan untuk membuka semua jendela mobil agar dapat menikmati hawa dingin dataran tinggi untuk mengusir rasa tegang tadi. Satu jam kemudian, kami sudah tiba di gunung Besek.

 

Gunung Besek sepertinya lebih tepat disebut sebagai bukit Besek, mengingat ukurannya yang tidak terlalu besar. Namun masyarakat sekitar lebih sering menyebutnya dengan gunung Besek. Bukan masalah bagi kami. Gunung ataupun bukit, pemandangan yang disajikannya sangat sayang untuk dilewatkan. Nama tempat ini diambil dari bentuknya yang mirip besek atau keranjang makanan yang kerap digunakan saat kenduri. Kami parkir di pekarangan rumah penduduk sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak dengan berjalan kaki selama 15 menit melewati jalan setapak. Jalurnya landai dan tergolong mudah. Setibanya di puncak, kami semua tersenyum lebar. Pemandangan dari puncak gunung/bukit Besek adalah jaminan banyak likes di Instagram. Kami segera mengeluarkan peralatan dan mulai bekerja. Abbas Rozaq (link ke akun IG Abbas), host Solo 24 Jam, segera memanjat ke puncak tertinggi dengan antusias. Tim yang lain berpencar dan melakukan tugasnya masing-masing sambil tidak lupa sesekali mencuri angle foto untuk selfie.

 

 

Kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di puncak Besek, sementara matahari sudah kian condong ke Barat. Waktunya beralih ke destinasi berikutnya yaitu bukit Cumbri. Kami sudah berencana untuk membangun tenda di puncak Cumbri untuk bermalam. Namun sayangnya jadwal berkehendak lain. Kami perlu mengisi ulang baterai kamera dan hari juga sudah gelap sehingga pilihan terbaik adalah kembali ke hotel dan bermalam di sana. Rencana pun berubah. Kami akan menaklukkan Cumbri esok hari.

Sekembalinya ke hotel Merista, kami sudah disambut oleh pak Imam Santoso, sang pemilik hotel. Beliau menyuguhkan hospitality khas Wonogiri yang tidak akan pernah kami lupakan. Obrolan ringan yang santai dan penuh tawa dengan pak Imam berlangsung hingga lepas tengah malam. Sayangnya kami harus undur diri dari perjamuan karena jadwal sudah menanti.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari saat kami kembali ke kamar untuk beristirahat. Kami hanya punya waktu sekitar satu setengah jam untuk tidur karena jadwal pendakian Cumbri akan dimulai di jam 3 pagi. Kami memang sengaja untuk berangkat lebih awal untuk mengejar sunrise. Jam setengah 4 pagi, kami sudah tiba di kaki bukit Cumbri. Foto-foto indah di puncak Cumbri hasil googling menjadi penyemangat kami untuk mendaki meskipun pandangan mata masih bokeh karena mengantuk.

Dan ternyata kami salah perhitungan. Mendaki Cumbri tidak hanya butuh semangat saja.

Langit masih gelap saat kami berangkat dari kaki Cumbri dengan tim sejumlah lima orang dan diiringi oleh satu orang guide dari warga lokal. Jalur pendakian menuju Cumbri pagi itu basah, licin dan berselimut kabut berkat hujan yang turun semalam. Guide kami, yang menurut taksiran sudah berusia di atas limapuluh tahun dan hanya mengenakan sandal jepit, bermanuver dengan santainya di jalur pendakian. “Saya biasa sampai ke atas cuma 15 menit, mas,” ujarnya dengan muka serius. Wajah kami sontak berbinar. Kami menyangka puncak sudah dekat. Namun kami lupa satu hal: guide kami adalah warga lokal, yang berarti dia sudah hapal hampir setiap sudut Cumbri. Belakangan kami baru tahu kalau rumahnya berada tepat di sebelah pintu masuk jalur pendakian. Cumbri sudah barang tentu adalah taman bermain yang sudah dilaluinya puluhan bahkan mungkin ratusan kali di sepanjang hidupnya. Waktu 15 menit merupakan standar pribadinya yang ditempa dari hasil pendakian bertahun-tahun. Bagi kaki-kaki kami yang lebih akrab dengan trotoar kota dan lantai mall, 15 menit adalah 1,5 jam.

Benar saja. Dua jam kemudian, kami baru tiba di puncak Cumbri. Guide kami sudah jauh lebih dulu sampai di sana, melesat meninggalkan kami yang berulang-kali berhenti untuk mengambil napas dengan muka merah. Dari lima orang saat berangkat, tim kami gugur satu. Kombinasi dari rasa lelah dan kurang tidur membuat salah seorang dari kami harus melambaikan tangan di separuh perjalanan. Hanya empat orang, plus guide yang sempat kami curigai sebagai jelmaan mahluk ekstraterestrial karena seperti tidak punya rasa lelah, yang berhasil sampai di puncak. Saran dari kami; persiapkan fisik sebelum mendaki Cumbri dan kenakan perlengkapan yang sesuai, seperti sepatu mendaki dan busana yang sesuai. Percayalah, kamu tidak akan mau mendaki Cumbri dengan sneakers kasualmu.

Dan seperti kalimat yang sering diucapkan oleh para motivator, kerja keras selalu berbuah hasil yang sepadan, perjuangan kami sampai ke puncak Cumbri diganjar pemandangan yang lebih dari sepadan.

Semua keringat yang menetes dan otot yang mengencang dibayar lunas di puncak Cumbri. Masih ingat dengan likes di Instagram yang kami dapatkan saat mem-posting foto di puncak Besek? Kali ini kami dapat tiga kali lipatnya. Pemandangan dari puncak Cumbri memberikan kami sensasi orgasmik visual. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di puncak, kami beringsut turun. Tenaga masih harus dihemat. Masih ada satu puncak lagi yang harus didaki sebelum jadwal shoot hari ini berakhir. Sementara itu, silahkan menikmati foto-foto yang kami ambil di puncak ini.

Jam 9 pagi, kami sudah berkumpul kembali di kaki Cumbri. Setelah mengisi perut dengan kopi dan gorengan, kami segera menuju puncak Secokro. Wonogiri kembali menunjukkan keramahannya yang khas. Kali ini kami disambut di rumah kepala desa Bakalan, Sumberejo dengan aneka macam makanan yang disajikan. Menariknya lagi, makanan yang disajikan adalah makanan khas setempat yang tidak kami temui setiap hari di kota Solo seperti nasi jagung, nasi tiwul dan urap. Kami merasa seperti tamu agung. Kearifan lokal dalam wujudnya yang terbaik.

Kelar makan, rombongan pemuda-pemudi setempat yang mengenakan kaus seragam “Wisata Puncak Secokro” sudah menunggu kami di depan rumah. Mereka tampak sudah tidak sabar untuk mengajak kami menuju puncak Secokro. Meski perut sudah penuh dan energi kembali terisi, ada sedikit kekhawatiran yang memancar dari wajah kami. Perjalanan mendaki Cumbri cukup menguras tenaga. Apakah perjalanan menuju puncak Secokro sejauh perjalanan mencapai puncak Cumbri?

Beberapa saat kemudian, kami menemukan jawabannya.

Dari rumah kepala desa, kami diantar menuju kaki Secokro. Ternyata tidak sejauh yang kami bayangkan. 10 menit kemudian, kami dan rombongan sudah tiba di kaki Secokro. Bukit ini memiliki area parkir yang berada dekat dengan kaki Secokro. Dari area parkir, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kekhawatiran yang sempat hinggap kini sirna sudah. Perjalanan hanya memakan waktu selama 15 menit dengan jalur yang tergolong landai dan sangat ramah. Tapi kami menempuhnya dengan tambahan 5 menit. Pemandangan dari sisi bukit terlalu menarik untuk dilewatkan. Beberapa kali kami berhenti dan jari-jari telunjuk kami sibuk menekan shutter kamera di sepanjang perjalanan naik untuk mengambil gambar.

Sesampainya di atas, kami disambut oleh sebuah warung dan saung. Kami berhenti sejenak untuk memesan minuman dingin. Saat itu matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Ternyata naik ke atas bukit di siang bolong adalah ide yang tidak begitu bagus. Keringat kami kembali diperas, kali ini pemicunya adalah terik sang surya. Tapi peduli setan. Kami lebih tertarik untuk mengekplor keindahan sekitar.

Abbas dan kru kamera kami menjadi kelinci Energizer siang itu. Mereka tampak berlarian riang menuju puncak bukit. Rasa lelah tidak ada di kamus mereka. Hey, tempat apa itu yang tampak ramai dikerubuti orang? Oh, ternyata gardu selfie. Warga sekitar menamakannya ‘Jembatan Cinta’. Nama yang asyik. Sontak kami membuka aplikasi kamera di smartphone masing-masing. Kami sudah membayangkan akan mendapat banyak likes lagi di Instagram, sembari diam-diam berdo’a kalau jembatan itu akan mengantarkan kami pada jodoh yang sudah dinanti.

Selesai mengeksplorasi, kami kembali beristirahat di saung. Minuman dingin kembali disajikan. Dan di sinilah keramahan Wonogiri kembali menunjukkan wujudnya. Belum selesai sistem pencernaan kami mengunyah makanan di rumah kepala desa tadi, kini tampak beberapa pemuda setempat datang membawa tampah. Giliran makanan ringan dan nasi ikan asin yang dihidangkan. Kami hanya geleng-geleng kepala sambil, tentu saja, mencomoti hidangan tersebut. Rejeki pantang ditolak adalah prinsip yang kami pegang teguh.

Oke, kini saatnya berpamitan. Tiga bukit sudah didaki, ratusan pengalaman baru telah didapat. Sekarang saatnya pindah lokasi, karena Wonogiri masih menyediakan banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Jangan lupa menyaksikan video Part 1 di sini dan nantikan Production Diary Part 2!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here