Pasar Jamu Nguter Sukoharjo: Sentra Ramuan Sehat Tradisional di Solo

0
100

Percaya gak kalau dahulu mulanya penjual jamu itu justru laki-laki? Pengen tahu ceritanya?

“Mas, jamune maas…!” Memang sih, sebagian besar orang menganggap jamu lekat dengan mbok-mbok bakul jamu gendong. Penjualnya identik dengan seorang perempuan. Dahulu, saat kemudahan akses ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan tak menjangkau ke pelosok desa, masyarakat lebih mempercayakan kesehatannya pada ‘orang pintar’ atau ‘dukun’. Lewat tangan mereka lah, beberapa ramuan tradisional didistribusikan dan dibarter dengan bahan makanan lain melalui seorang laki-laki. Lalu, gimana ceritanya bisa sampai jadi jamu gendong?

Kala itu zaman pemerintahan Kerajaan Mataram terpecah menjadi Keraton Ngayogyakarto dan Surokarto. Rumah sakit dengan pengobatan modern tak menjangkau warga pelosok desa. Seiring waktu, jamu yang mulanya dipikul seorang laki-laki, beralih dijajakan oleh wanita dengan cara digendong. Laki-laki kala itu tenaganya justru dialihkan menjadi petani. Jamu didominasi dengan kebutuhan jamu untuk perempuan, seperti saat mengandung atau melahirkan. Karena usaha ini menguntungkan, banyak perempuan yang akhirnya berminat untuk menjajakan jamu. Jamu gendong akhirnya lekat dengan perempuan bakul jamu yang berkeliling menawarkan jamu. “Mas, jamune maas..”

Nah, fyi, para pedagang jamu gendong di kota besar ini berasal dari satu daerah di Sukoharjo, tepatnya di Kecamatan Nguter. Setelah masa kemerdekaan Indonesia tepatnya, banyak penduduk desa mengadu nasib ke ibukota, termasuk para penjual jamu di Sukoharjo.  Namun, sekarang, tak jauh dari Solo, dengan mudah kita temui satu lokasi yang menjadi sentra penjualan jamu, di Pasar Jamu Nguter Sukoharjo.

Di Sukoharjo, ada salah satu pasar yang merupakan sentra penjualan jamu. Pasar ini diresmikan 1 April 2015 lalu sebagai Pasar Jamu Nguter Sukoharjo. Meskipun tidak hanya menjual jamu saja, namun Nguter memiliki keunikan tentang sejarah jamu nasional. Nguter memiliki kurang lebih 1000 orang yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Desa Nguter memiliki potensi jamu rumahan yang besar, selain itu telah terdapat 5 pabrik jamu yang ada di Nguter. Beragam merk jamu rumahan dengan kode usaha departemen kesehatan dan industri kecil banyak ditawarkan. Oleh pemerintah Kabupaten Sukoharjo dibuatkan pasar untuk menampung para pedagang jamu. Lokasinya berada di Jalan Raya Solo-Wonogiri, Pasar Nguter, Sukoharjo.

Meski tidak lepas dari sejarah panjang, mengapa sentra jamu ada di Sukoharjo? Ada sosok wanita bernama Yoso Hartono dari Purwodadi tinggal di Solo tahun 1932. Ia menjual jamu di Pasar Nguter. Awalnya ia merugi, namun setelah memutuskan pindah ia mencoba menjual jamu beras kencur, kunir asem, jamu pahitan serta jamu hasil olahan yang siap diminum. Jamu dijual dengan harga ½ sen, dan dalam sehari ia bisa meraup 15 sen.

Jejak sukses Yoso Hartono diikuti oleh pedagang lain. Selain jamu godokan, jamu berkembang menjadi jamu racikan yang telah dibungkus. Sementara banyak warga Nguter yang mengikuti langkah Bu Yoso masih berjualan jamu dengan cara tradisional dengan cara berjualan berkeliling membawa jamu godokan dengan menggunakan tempat khusus berupa tenggok yang digendong di punggung. Pada tenggok ini berisi botol-botol yang berisi jamu racikan. Orang Jawa menyebutnya dengan jamu Gendong. Hingga sekarang, penjual jamu gendong masih cukup mudah dijumpai.

Para pedagang jamu ini melakukan inovasi  dengan membuat resep dengan merek sendiri-sendiri walaupun kegunaan/khasiatnya sama. Seiring waktu, industri jamu di Nguter mengalami pertumbuhan yang besar. Salah satu penanda pertumbuhan dari industri jamu di Nguter adalah munculnya koperasi jamu Indonesia atau KOJAI yang diketuai Murtejo. Ide pembentukan KOJAI dimunculkan salah satu anak Ibu Yoso Hartono, Eko Cahyono dan mendapat dukungan penuh dari Lurah Desa Nguter, Paimo serta Camat Nguter, Haryanto. Selain Eko Cahyono, sejumlah anak Ibu Yoso Hartono juga menjadi penanda kesuksesan industri jamu di Nguter seperti Yulianingsih (Cik Nelly) yang bersama suaminya, Slamet Riyadi mendirian perusahaan pengolahan jamu yang bernama CV. Wisnu Joglo Kresna Wisnu (WJKW) yang berada di sisi timur Pasar Nguter.

Yoso Hartono pun seperti  menjadi pioneer penanda sejarah munculnya industri jamu khususnya jamu racikan (godokan) di Nguter, karena berkat usahanya sejak menciptakan jamu olahan sejak tahun 1973 silam. Pada tahun 1983, Yoso Hartono meninggal dunia dan pengelolaan industri jamunya diteruskan anak-anaknya.

Pembaruan pasar Nguter pada Agustus 2013 dengan dana Rp 13,4 miliar. Berdasarkan data dari kantor Lurah Pasar Jamu Nguter, zona jamu mendominasi unit kios dan los yang ada di Pasar Nguter ini.

Untuk kios, zona jamu memiliki 55 unit yang berada di lantai atas dan bawah. Sedang zona jamu di bagian los pasar ada 119 unit yang berada di lantai atas maupun bawah. Meski juga ditempati para pedagang non jamu seperti pedagang sembako, buah-buahan, warung makan, pakaian, dan sebagainya. Namun, mayoritas pedagang pasar jamu Nguter adalah para pedagang jamu.Termasuk tujuh produk jamu racikan yang berskala besar yang diproduksi CV WJKW yaitu Gujati, Sabdo Palon, Bisma, Anoman, Puntodewo, Narodo.

Adanya Pasar Jamu Nguter Sukoharjo ini membuktikan bahwa jamu mampu menjadi kuliner kontemporer yang bisa memperkaya pilihan kuliner yang ada di Solo.

Jadi, mau sehat dengan ramuan tradisional ala Pasar Nguter Sukoharjo?

Ayo ke Solo!

Sumber referensi sejarah:

Begini sejarah Pasar Jamu Nguter

Suharmiati. 2003. Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong. Agromedia Pustaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here