Pasar Gede, Pasar Jawa dan Wisata Kota.

0
950

Ada istilah “apabila ingin mengetahui identitas kota, silahkan datang ke pasar tradisional di kota tersebut sebagai tujuan pertamanya”, mungkin istilah itu tepat bagi wisatawan yang menentukan kota Solo sebagai destinasinya.

Khususnya bagi saya yang ingin mengeksplorasi kota kelahiran presiden Joko Widodo ini. Lalu di mana pasar yang bisa yang mencerminkan kota Solo? Dalam perjalanan saya, bukan hal sulit untuk menemukan pasar tradisional di kota Bengawan ini. Begitu tiba di stasiun Solo Balapan saya bertanya kepada tukang becak dimana saya bisa ke pasar tradisional. Ternyata jawabannya membuat saya cukup kaget karena diberi pilihan pasar yang lebih dari sepuluh jari tangan, mulai dari Pasar Legi, Pasar Klithikan, Pasar Depok, Pasar Gede, Pasar Triwindu, Pasar Kadipolo, Pasar Nusukan, Pasar Klewer, Pasar Gemblegan, pasar Purwosari dan selebihnya saya belum mencatat karena si bapak tergesa-gesa mengayuh becaknya yang sudah ditunggu penumpang.               fj_pasargede-8

Teringat artikel yang saya baca di mbah Google dua hari sebelum berangkat tentang pasar tradisional. Pilihan saya jatuh pada Pasar Gede karena sebagai salah satu karya arsitektur wahid Herman Thomas Karsten dengan gaya arsitektur Jawa kolonial. Herman Thomas juga merancang banyak bangunan di Jawa Tengah termasuk Pasar Johar Semarang.

Sekitar pukul enam pagi saya sudah siap untuk menikmati hiruk-pikuk Pasar Gede di antara pedagang dan pembeli. Persis di depan pintu masuk, saya sudah disambut oleh para ibu-ibu yang berprofesi sebagai buruh gendong, aktivitas bongkar muat dan jajaran becak yang terparkir rapi.

Pasar Gede Solo fj_pasargede-9

Sekilas saya melihat aktivitas di Pasar Gede memang tidak pernah berhenti selama 24 jam, beberapa gang di dalam pasar biasa ditemui orang yang masih terlelap dengan televisi yang terletak permanen di kios dan lampu pijar yang selalu menyala. Ternyata hal apa yang saya perkirakan sedikit benar, karena predikat kota Solo sebagai kota yang tidak pernah tidur ternyata juga disandang oleh Pasar Gede, dimana aktivitasnya sudah dimulai pukul dua pagi untuk bongkar muat buah dan sayuran.

fj_pasargede-6 fj_pasargede-4

Sebagai sebuah situs peninggalan sejarah, Pasar Gede atau lengkapnya Pasar Gede Harjonagoro dapat dikatakan sebagai pasar dengan nilai seni arsitektur yang tinggi, sebagai tempat interaksi sosial dan sebagai bagian dari Keraton kaitannya dengan nilai-nilai Jawa yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut saya rasakan ketika berada di dalam bangunan utama Pasar Gede.

Pasar yang dibangun pada tahun 1927 ini memiliki nilai arsitektur yang tidak bisa dipandang sebelah mata, mampu menunjukkan interaksi sosial masyarakat tanpa sekat, memiliki dimensi ruang yang sangat tertata apik sehingga tampak lebih lega, tertib, dan bersih.  Pasar Gede lebih dari sebuah bangunan, melainkan ruh atau jiwa masyarakat kota Solo yang masih mampu bertahan dalam arus futuristik.

fj_pasargede-2-6 fj_pasargede-3

Berbagai  jenis barang dagangan disajikan rapi dalam zona yang memudahkan pembeli untuk menemukan apa yang dibutuhkan, seperti sajian makanan siap santap, buah, sayuran, ikan dan daging dan masih banyak lainnya. Keriuhan transaksi antara pedagang dan pembeli menjadi hal yang menarik untuk disimak karena di sini saya saksikan interaksi antara penjual dan pembeli dari berbagai etnis yang memang menunjukkan pluralisme masyarakat kota Solo.

fj_pasargede-2 fj_pasargede

Pasar Gede terdiri dari dua bangunan utama yang masing-masing terdiri dari dua lantai yang masing-masing dipisahkan oleh jalan raya. Saat ini bangunan disisi timur digunakan sebagai transaksi jual beli kebutuhan pokok dan sembako sedangkan bangunan sebelah barat banyak menjual buah-buahan atau lebih dikenal sebagai pasar buah.

Dalam perkembangannya, Pasar Gede selain sebagai ruang transaksi ternyata ramai dikunjungi oleh wisatawan asing khususnya tamu Eropa sebagai destinasi karena ketertarikannya oleh bangunan pasar dengan ciri khasnya berbentuk model benteng, nilai kolonial dengan dinding dan kolom yang tebal, serta konsep tradisional yang mengusung model atap dan luasan bangunan.

fj_pasargede-2-2

Sebelum meninggalkan pasar Gede, sejenak saya singgah di sudut pasar bagian utara untuk menikmati sajian kopi yang menurut kawan yang sudah pernah ke kota Solo untuk tidak melewatkan Coffee Shop Toko Podjok pasar Gede yang sudah berdagang disini sejak tahun 1945. Bagi yang sudah terbiasa dengan brand kopi kapitalis, akan memiliki sensasi yang berbeda ketika bagaimana menikmati kopi panas didalam romansa budaya dan tradisi kota, bagaimana tidak? secangkir kopi panas Arabica yang ditemani oleh panganan tradisional Gembukan dan Cakue. kopi yang ditawarkan langsung dijual oleh produsen kopi merk Angkring yang cukup melegenda di kota Solo. Berbagai pilihan jenis biji dan bubuk kopi dapat kita dapatkan langsung sesuai selera. Bagi yang ingin membawa sebagai oleh-oleh khas Solo yang anti mainstream dapat membeli sesuai kocek mulai Rp 18,000; – Rp 50,000; per kilogram, sangat murah bukan?

fj_pasargede-2-4 fj_pasargede-2-5 fj_pasargede-2-3

Sebagai penutup cerita saya tentang pasar Gede, menurut saya Pasar Gede bukan sekedar bangunan melainkan sebagai konsep budaya kota yang memiliki nilai kebersamaan, keragaman dan ekonomi sosial masyarakat sehingga Pasar Gede akan selalu melekat bagi masyarakatnya sebagai sebuah ruang yang harus dipertahankan.

fj_pasargede-2-8

Setelah menyruput kopi Ankring terakhir saya, perjalanan saya dalam Journey of Solo ini saya lanjutkan ke sudut kota lainnya di Kota Solo kota Budaya.

Oleh: Chris Setyohadi Brotowijoyo
https://www.facebook.com/christochev?fref=ts

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here