Home Blog Page 3

Wisata di Solo: Museum Keris Nusantara

0

Wanderers, ada destinasi wisata baru nih di Solo, namanya ‘Museum Keris Nusantara’. Museum yang berisi koleksi keris dari berbagai daerah diresmikan Presiden Joko Widodo belum lama ini, di 9 Agustus 2017 lalu.

Pembangunan museum ini dimulai 2013, dan kini bisa kita kunjungi lho, Wanderers. Oiya, gratis tiket masuk alias free-entry hanya sampai 31 Agustus 2017. Lokasinya di Jalan Bhayangkara No.2 Solo, 57141. Tepat di belakang Stadion Sriwedari R.Maladi, stadion legendaris di kota Solo, dimana Pekan Olahraga Nasional (PON) Indonesia pertama kali diselenggarakan.

Beragam koleksi keris dari seluruh Nusantara ada di Museum Keris. Mulai dari jaman kerajaan Jenggala hingga masa kini. Koleksinya ada sekitar 338 bilah baik keris, tombak maupun pedang. Dan masih ada tambahan lagi keris pinjaman dari kolektor berjumlah 32 keris.

Menurut Bambang Tuko Wibowo, salah satu staf Museum Keris Nusantara juga turut menghibahkan keris koleksinya, koleksi keris didominasi dari hibah masyarakat. Keris yang merupakan hibah dari pada kolektor ataupun pribadi diseleksi oleh para kurator. Keris yang tidak dibuat berdasarkan pakem (aturan baku) pembuatan keris tidak dijadikan koleksi Museum Keris ini.

Museum yang terdiri dari 4 lantai ini cocok menjadi destinasi wisata edukasi, sejarah juga wisata budaya. Lantai 1 atau Wedharing Wacana (Pintu Utama, Loket, Informasi, Kantor, Ruang Audio), Lantai 2 Purwaning Wacana (Ruang Pamer, Ruang Bermain Anak, Ruang Restorasi Keris, Perpustakaan), Lantai 3 Cipta Adiluhung (Ruang Diorama, dan Rest Area), serta Lantai 4 (Ruang Kreativitas dan Storage).

Di Museum Keris ini, bahkan tersimpan koleksi milik Presiden Joko Widodo yang kabarnya bernilai miliaran rupiah. Penasaran?

Selain koleksi keris dipamerkan, ada perpustakaan dengan beragam koleksi buku tentang keris. Peneliti atau mahasiswa yang ingin memperdalam tentang keris, tentu akan sangat dimudahkan dengan adanya Museum Keris ini.

Catat jam operasional Museum Keris Nusantara ini ya, Wanderers! Karena museum ini tutup di hari Senin. Namun, di hari lain beroperasional buka di waktu-waktu ini saja yaitu Selasa-Kamis, 09.00—15.00, Jumat 08.30—11.00, Sabtu 09.00—15.00, Minggu 09.00—13.00, hari Senin libur.

Jika kamu mengunjungi Museum Keris Nusantara, jangan lupa mampir kulineran di belakang Sriwedari ya. Cicip kuliner sate khas Solo, Sate Kere Yu Rebi.

Jadi, kapan mau ke Solo, Wanderers?

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

Fun Bussiness Trip in Solo! Bengawan Solo Travel Mart 2017, When Buyers Meet Sellers

0

Bengawan Solo Travel Mart (BTM) 2017 kembali digelar 25—27 Agustus 2017 nih, Wanderers!

Betapa tidak, ajang berkumpulnya sekitar 80 buyers dari tour operator dan agency dari domestik serta mancanegara, juga 70 sellers dari industri perhotelan, travel agent, restoran, UKM se-Solo Raya di kota Solo.

Tentu saja, ajang bertemunya sellers dan buyers ini diharapkan dapat mengembangkan, mempromosikan sekaligus mengenalkan secara langsung beragam potensi destinasi wisata Solo Raya.

Bengawan Solo Travel Mart (BTM) 2017 merupakan event hasil kerjasama Dinas Pariwisata Solo, Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Solo, dan stakeholders lainnya.

Di hari pertama, 25 Agustus 2017 BTM dimulai dengan meeting point di Showroom Batik ‘Pria Tampan’ di Kampung Batik Laweyan. Selain merasakan belajar membuat batik, peserta berkesempatan menikmati morning tea dan sarapan istimewa kuliner khas Solo yaitu ‘Nasi Liwet’.

Setelah mendapatkan workshop batik, dan berbelanja, dilanjutkan dengan famtrip Solo City Tour menggunakan armada Bus Rosalia Indah. Perjalanan Solo City Tour berhasil mencuri perhatian para buyers. Solo City Tour ke beberapa destinasi wisata Solo yaitu di Museum Keris, Pura Mangkunegaran, dan Pasar Antik Triwindu.

Tour dilanjutkan dengan lunch aneka menu khas Solo di ‘Soga Resto’ dan berkeliling di Museum Batik Kuno Danar Hadi. Perjalanan masih dilanjutkan ke Bus Rosalia Indah Office, dan Mount Lawu Adventure Trip, baik wisata kebun teh di Kemuning serta Paralayang juga sensasi Fun Camping.

Buyers dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Kediri, Bekasi, Bogor, Cilacap, Tasikmalaya, Cirebon, Kalimantan, Lombok, Makassar, Malaysia, Belanda, dan Phnom Pehn merasa senang dapat mengunjungi beragam destinasi wisata di Solo Raya.

Bengawan Solo Travel Mart 2017 diharapkan mampu menjual berbagai tempat wisata di Solo Raya yang berpotensi mendunia. Selain meningkatkan daya saing wisata dengan beragam destinasi wisata lainnya, hubungan dengan pelaku wisata daerah lain tentu akan meningkat.

Give you more than potential business partners” sesuai jargon BTM 2017 diharapkan dapat mempererat sinergi antara seller dan buyer dalam rangka mendatangkan lebih banyak wisatawan yang berkunjung di Solo Raya khususnya, dan kawasan Jawa Tengah pada umumnya.

Di hari terakhir, akan ada table top di Solo Paragon Hotel yang merupakan puncak kegiatan yang memungkinkan seller dan buyer bertemu. Kedua belah pihak bertransaksi, menjajaki kerja sama, dan bertukar informasi. Dresscode yang digunakan pun menggunakan pakaian adat dari daerah asal masing-masing peserta. Pasti seru ya? Mau tau keseruan lainnya?

Simak dan tunggu liputan selanjutnya dari tim Wonderful Solo, ya Wanderers!

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

Event in Solo: Indonesia Umbrella Festival September 2017

0

Indonesia Umbrella Festival will be held from 15th—17th of September 2017 in Mangkunegaran Palace, Solo, Central Java Province. One of cultural events in Solo that their work has been worldwide. Colourful of umbrellas with Nusantara etnic of fabric material.

Not only known in Solo City, Indonesia Umbrella Festival has been known into Thailand on Bo Sang Umbrella Festival, at January 2017. Skilled hands of the umbrella craftsmen increasingly enhance the look of umbrella.

Umbrellas are indeed a unique creation that needs a true artistic touch. Traditional umbrellas from all across the archipelago. The festival will also feature umbrella arts from other countries.

Founder of Mataya Art and Heritage, Heru Mataya have been a massive promote Indonesia Umbrella Festival to the abroad. Umbrella is not only being protective equipment when it rains. Umbrella can be a diplomacy media amongst  the countries.

So, Dont miss it, Wanderers!

Join with us in Indonesia Umbrella Festival on September 2017 at Mangkunegaran Palace, Solo, Central Java Province.

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

Seru! Field Trip 4 Hari 3 Malam Menikmati Wonderful Solo bersama Solo Raya Consortium

0

Keseruan Family Trip Gathering 2017 Wonderful Solo, 1-4 Agustus yang diadakan oleh Solo Raya Consortium menyenangkan hati para buyers biro wisata mancanegara dan domestik.

Ketua Panitia Family Trip Gathering Wonderful Solo 2017 Solo Raya Consortium berpose bersama peserta dan icon Festival Payung Indonesia di Megaland Hotel Solo
Peserta FamTrip Gathering Wonderful Solo 2017 asal Malaysia saat penjemputan kedatangan di Bandara Adi Sumarmo Solo

Start dari Megaland Hotel field trip di wisata Solo Raya ini menggunakan Sepur Kluthuk Jaladara. Kereta api lokomotif uap yang satu-satunya beroperasi di jalan utama kota Solo.

Fam Trip Gathering Wonderful Solo 2017 ini diikuti oleh 30 buyers dari travel agent berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Thailand.

Dinner Family Trip Gathering Wonderful Solo 2017 Solo Raya Consortium di Megaland Hotel Solo
Buyer Peserta FamTrip Gathering 2017 berfoto bersama ikon Festival Payung Indonesia

Perjalanan pertama dimulai dari Megaland Hotel Solo, berlanjut ke Stasiun Purwosari untuk merasakan sensasi naik lokomotif uap Sepur Kluthuk Jaladara. Salah satu ikon unggulan wisata Solo.

Sepur Kluthuk Jaladara dan Peserta FamTrip Gathering Wonderful Solo SRC 17

Sepur Kluthuk Jaladara dengan tenaga uap merupakan produksi Jerman dan satu-satunya yang masih dioperasikan di atas rel pada aspal jalan utama kota, satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia. Loco steam C1218 ini diproduksi di tahun 1896 oleh Rich-Hartmann. Mesin dioperasikan dengan tenaga uap dari bahan bakar kayu jati, dan tenaga cadangan air panas 3000 L, dan air dingin 6000 L. Perlu pemanasan mesin selama 3 jam sebelum dioperasikan.

Kereta Uap (Loco Steam) Sepur Kluthuk ‘Jaladara’
Gerbong Sepur Kluthuk Jaladara

Di perjalanan kami dipandu oleh Dinas Pariwisata dan Dinas Perhubungan. Peserta diajak mengunjungi wisata di Solo di antaranya Museum Radya Pustaka, Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota), dan Museum Batik Danar Hadi. Kereta berhenti di Stasiun Solo Kota untuk berputar arah menuju Soga Resto untuk menikmati makan siang.

Solo Raya Consortium Ajak 30 Buyers Mancanegara Naik Lokomotif Uap ‘Sepur Kluthuk Jaladara’

Selain mengunjungi wisata kota Solo, field trip dilanjutkan ke Kampung Jamu Sukoharjo, Baki Village Duck Feeding, Wisata Andong di Baki, Museum Sangiran Kampung Purba, dan Candi Sukuh.

Tidak hanya berwisata, selama di Solo, buyers dapat merasakan stay over night di tiga hotel berbeda yaitu Megaland Hotel Solo, Fave Hotel Solo Baru, dan Hotel Indah Palace Tawangmangu.

Wisata Edukasi ke Sangiran Kampung Purba

Puas menikmati sajian wisata di kota Solo, beranjak ke 17 km arah Sragen, peserta FamTrip Gathering SRC 2017 menuju wisata edukasi ke laboratorium dunia Situs Manusia Purba Sangiran. Letaknya di Sragen, 45 menit waktu tempuh dari kota Solo.

Museum Manusia Purba Sangiran
Fosil Kuda Sungai Temuan Situs Sangiran

Di Sangiran, ada satu museum induk di daerah Krikilan, Kalijambe, Sragen. Museum ini berisi beragam koleksi yang telah disajikan secara modern dalam rangka edukasi dan informasi bagi pengunjung museum. Temuan-temuan fosil maupun artefak, baik dari temuan warga maupun peneliti, dikelola di museum oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Field Trip ke Museum Sangiran Kampung Purba, Sragen

Selain museum induk atau utama di Sangiran, terdapat lima klaster pengembangan Sangiran sebagai Destinasi Wisata Dunia. Klaster Krikilan, sebagai pusat informasi tentang kehidupan manusia purba, tidak hanya di Sangiran melainkan di Indonesia. Klaster Ngebung menuajikan informasi tentang sejarah penemuan Situs Sangiran sejak ditemukannya alat-alat serpih yang pertama oleh G.H.R Von Koniegswald (1934) dan fosil manusia purba pertama (1936). Klaster Bukuran informasi tentang evolusi manusia secara lengkap. Klaster Dayu informasi tentang penelitian-penelitan mutakhir. Klaster Manyarejo informasi tentang penelitian lapangan dan temuan warga lokal.

Treatment Fosil Temuan di Laboratorium Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Salah satu sudut Museum Sangiran yang menjajakan souvenir khas Sangiran

Bukan hanya museum saja yang bisa membuat kita berdecak kagum akan pesona Sangiran Kampung Purba. Datang langsung ke lokasi temuan, dan nikmati sensasi seakan menjadi detektif zaman purba dengan menyusuri pedesaan yang penuh akan kekayaan informasi mengenai kehidupan manusia jutaan tahun lalu.

Mencicipi Ramuan Tradisional ‘Kampung Jamu Nguter’

Keseruan Family Trip Gathering Solo Raya Consortium (SRC) 2017 belum berakhir. Setelah keseruan menikmati Sepur Kluthuk Jaladara, hari kedua field trip peserta SRC 17 menuju ke bagian selatan Solo Raya, yaitu Sukoharjo. Di Sukoharjo, para pelaku pariwisata dari berbagai daerah ini berkeliling Kampung Jamu Nguter.

Merasakan membuat jamu di Kampung Jamu Nguter Sukoharjo
Solo Raya Consortium 2017 ke Kampung Jamu Nguter Sukoharjo
Solo Raya Consortium 2017 ke Kampung Jamu Nguter Sukoharjo
Solo Raya Consortium 2017 ke Kampung Jamu Nguter Sukoharjo

Kampung Jamu Nguter memiliki keunikan tentang sejarah jamu nasional, dengan kurang lebih 1000 orang yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Kampung Jamu Nguter memiliki potensi jamu rumahan yang besar, selain itu telah terdapat 5 pabrik jamu yang ada di Nguter. Beragam merk jamu rumahan dengan kode usaha departemen kesehatan dan industri kecil banyak ditawarkan. Oleh pemerintah Kabupaten Sukoharjo dibuatkan patung Jamu sebagai icon dan pasar untuk menampung para pedagang jamu. Lokasinya berada di Jalan Raya Solo-Wonogiri, Pasar Nguter, Sukoharjo.

Kala itu zaman pemerintahan Kerajaan Mataram terpecah menjadi Keraton Ngayogyakarto dan Surokarto. Rumah sakit dengan pengobatan modern tak menjangkau warga pelosok desa. Seiring waktu, jamu yang mulanya dipikul seorang laki-laki, beralih dijajakan oleh wanita dengan cara digendong. Laki-laki kala itu tenaganya justru dialihkan menjadi petani. Jamu didominasi dengan kebutuhan jamu untuk perempuan, seperti saat mengandung atau melahirkan. Karena usaha ini menguntungkan, banyak perempuan yang akhirnya berminat untuk menjajakan jamu. Jamu gendong akhirnya lekat dengan perempuan bakul jamu yang berkeliling menawarkan jamu. “Mas, jamune maas..”

 

Setelah mencicipi segarnya ramuan beberapa jamu tradisional khas Kampung Jamu Nguter, peserta diajak berkeliling Kampung Wisata Baki dengan merasakan sensasi naik ‘Andong’. Andong adalah salah satu alat transportasi warisan budaya di Jawa, dengan menggunakan tenaga kuda, dikendarai oleh kusir. Satu Andong dapat memuat 1 orang kusir dan 5 orang penumpang.

 

 

Suara sepatu kuda melaju lambat di tengah persawahan yang terbentang. Angin sepoi-sepoi dan sejuk khas pedesaan menuju rumah limasan dan menikmati makan siang dengan Nasi Liwet dan Cabuk Rambak. Seusai makan, peserta menuju ke Batik Indah. Batik khas daerah Baki, yang menyediakan aneka batik.

Tak hanya makan dan belanja, peserta mencoba untuk turun ke sawah duck feeding, melihat warga Baki menggembala kerbau, dan berinteraksi dengan masyarakat asli Kampung Wisata Baki.

Menikmati Sejuknya Hawa Pegunungan Di Tawangmangu, Kaki Gunung Lawu

Tak cukup rasanya sehari atau semalam saja untuk mengeksplorasi kota Solo. Di hari kedua field trip Solo Raya Consortium (SRC) 17, 3 Agustus peserta menikmati senja di jalanan berkelok-kelok dan dinginnya malam kawasan kaki Gunung Lawu. Menuju Tawangmangu, peserta FamTrip Gathering SRC 12 stay over night di Hotel Indah Palace Tawangmangu.

Sesampainya di Tawangmangu, peserta disambut dengan suhu udara dingin khas kaki Gunung Lawu 17°C. Biro wisata mancanegara dan domestik peserta SRC 17 mencicipi dinner sajian indonesian food dengan local barbeque. Tidak ketinggalan menu tradisional khas Solo wedang ronde, nasi bakar, dan bakso.

Wedang ronde merupakan minuman khas dari kota Solo. Semangkuk wedang ronde berisi air jahe dengan isian ronde, kolang-kaling, dan kacang tanah. Ronde sendiri terbuat dari bahan tepung ketan, tepung kanji, garam, kapur sirih, air hangat, teng-teng kacang, kacang tanah panggang. Wedang ronde dapat meningkatkan stamina dan merupakan minuman yang sangat cocok diminum saat musim dingin. Kombinasi air, jahe, serai, daun pandan, gula pasir murni sangat cocok untuk menghangatkan badan di suasana malam Tawangmangu yang dingin, ditambah sajian hiburan live music. Ada juga api unggun di Hotel Indah Palace Tawangmangu yang makin menambah hangatnya kebersamaan di malam hari.

Keesokan paginya, saatnya mengekplorasi wisata alam kaki Gunung Lawu. Peserta berjalan menuruni anak tangga untuk melihat air terjun Grojogan Sewu. Air terjun dengan ketinggian 81 meter ini sangat dingin dan sejuk airnya. Pepohonan rimbun menuju air terjun dihuni sekawanan monyet. Peserta pun menikmati kuliner sate kelinci dan jajanan pasar. Tak hanya itu, terdapat keseruan aktivitas outbond berupa flying fox di Grojogan Sewu.

Flying Fox di Air Terjun Grojogan Sewu

 

Flying Fox di Air Terjun Grojogan Sewu
Field Trip ke Air Terjun Grojogan Sewu
Peserta FamTrip Gathering 2017 asal Singapura berpose di salah satu sudut Air Terjun Grojogan Sewu
Arena Flying Fox di Air Terjun Grojogan Sewu
Peserta FamTrip Gathering 2017 berpose di Air Terjun Grojogan Sewu

Sebelum kembali pulang, peserta pun dapat membawa buah tangan atau oleh-oleh khas Karanganyar, yaitu Gethuk Semar. Getuk (gethuk) adalah makanan berupa kue jajan pasar yang terbuat dari singkong dikukus kemudian ditumbuk halus bersama gula merah atau gula kelapa lalu diiris-iris dan biasanya dihidangkan dengan parutan kelapa.

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

 

Sebuah Catatan dari Pesona Sangiran Kampung Purba

0

Jutaan tahun silam, tersimpan riwayat panjang kehidupan masa lalu. Alam, tanah, dan manusia mulai dari asal usulnya, lingkungan tempat tinggal, kehidupan, hingga sebab musabab kepunahannya. Usaha besar dan kerja keras tak kenal lelah bagi perjalanan panjang pencarian mata rantai yang hilang (missing link). Situs penting serta kiblat bagi perkembangan ilmu pengetahuan mengenai evolusi manusia secara lengkap itu, bernama: Sangiran.

Jika terdapat temuan ilmuan tentang cara tuk lupakan masa lalu, rasanya pengecualian bagi satu daerah di Utara Solo ini. Sragen tepatnya, terdapat kenangan tak kunjung usai yang tertimbun dalam. Pada lapisan-lapisan tanah berumur jutaan tahun, tersimpan cerita panjang yang amat bernilai. Bagaimana mau lupa? 52 km² area di Sangiran menyimpan sejarah panjang tentang kehidupan masa lalu. Kehidupan masa purba.

Daerahnya kering, namun subur. Banyak lahan dan ladang luas dengan angin yang bertekanan cukup tinggi. Dominasi masyarakat agraris, di area lahan yang merupakan area konservatif. Area dimana jutaan tahun lalu terdapat catatan kehidupan tentang manusia purba.

Museum Manusia Purba Sangiran, Krikilan, Sragen, Jawa Tengah.

Sangiran, yang bagi sebagian masyarakat, hanyalah dikenal sebuah museum berisi tulang-tulang manusia purba, kini beranjak mempercantik diri. Situs Manusia Purba Sangiran ini telah diakui dunia sebagai world heritage pada tahun 1996. Beberapa tahun silam, Museum Sangiran belum menarik minat para pengunjung untuk mempelajari sejarah kehidupan masa lalu. Benar saja, “Dulu Sangiran cuma kayak rumah biasa, gitu. Gak menarik”. Itu dulu Guys.

Sebelum berdiri megah museum di Sangiran, memang museum Sangiran hanya merupakan tempat fosil-fosil dikumpulkan. Fosil yang disebut masyarakat Sangiran sebagai “balung buto”, mereka setorkan pada Mbah Toto Marsono untuk dipilah apakah masuk sebagai klasifikasi fosil hominid ataukah bukan menurut von Koenigswald. Hasil temuan yang mereka dapatkan diberi imbalan obat yang dibutuhkan masyarakat lokal Sangiran. Beberapa dari mereka bahkan mendapat imbalan sejumlah uang.

Museum Manusia Purba Sangiran (The Homeland of Java Man)

Para warga lokal Sangiran sangat erat dengan perjalanan pencarian fosil. Mereka menjalani kehidupan di Sangiran dan tak terlepaskan dari aktivitas mengumpulkan fosil dan artefak secara turun temurun. Tak salah jika hal-hal yang berkaitan langsung tentang temuan, mereka hafal persis dari mana saja lokasi temuan, mana yang fosil atau bukan, masuk dalam formasi lapisan tanah mana, dan memperkirakan berapa umur fosilnya. Kemampuan mereka terasah dari learning by doing serta berbaur langsung dengan peneliti luar dari beberapa bidang, baik arkeologi, geologi, paleantologi, dan disiplin ilmu lain.

Ekskavasi di Sangiran (Dokumentasi PREHSEA)

Keunikan Sangiran Kampung Purba

Berkunjung ke World Heritage lain di Indonesia, ada salah satunya Borobudur. Cagar Budaya ini tentu telah dikenal luas. Berbeda dengan kawasan Sangiran. Semenjak ketetapan UNESCO lalu 1996 sebagai world heritage, Sangiran ini memiliki keunikan di tengah pesonanya.

Peta Sangiran

Keunikan Situs Manusia Purba Sangiran adalah sebagai warisan dunia yang berada di dalam wilayah hunian penduduk. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Situs Sangiran,masyarakat di sekitar Sangiran, tinggal dan hidup di dalamnya. Gotong royong dan rasa memiliki akan Sangiran, menggugah masyarakat untuk peduli di tengah berbagai peluang dan hambatan dalam memajukan perekonomian masyarakat. Nilai edukasi, sosial, ekonomi dan budaya dari Situs Sangiran terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Jawa yang agraris.

Di antaranya ada Sadiman (dikenal dengan nama Subur) dan juga Sutanto. Warga lokal Sangiran ini menjadi orang yang berada di barisan depan dalam melestarikan Sangiran. Sedari kecil, mereka terlibat beberapa aktivitas peneliti di lokasi ekskavasi atau penggalian. Bahkan, sebelumnya orang tua mereka yang terlibat untuk membantu kebutuhan para peneliti. Selain itu, mereka juga menjadi local guide dan pencari fosil juga. Tak jarang bahkan sempat terlibat beberapa aktivitas penjualan ilegal. Jangan salah sangka, meski berawal dari ketidaktahuan akan berharganya aset di Sangiran, kini mereka justru berada di garda depan dari warga lokal yang menyuarakan ide dan gagasan mereka untuk menjadikan Sangiran lebih dikenal publik.

Langkah nyata yang dilakukan Subur dan Tanto semakin diperkuat dengan perjalanan mereka ke Filiphina bersama Prehsea (Prehistoric Heritage In Southeast Asia). Kumpulan beberapa peneliti dari berbagai daerah di Asia Tenggara, melakukan kegiatan yang berkaitan dengan upaya menjaga warisan dunia dari masa pra-sejarah. Salah satunya Dr. Andri Purnomo dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Kegiatan Prehsea pun menjembatani masyarakat untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang keilmuan yang berkaitan dengan Sangiran dan komponen yang menaungi Sangiran dalam rangka kebijakan publik.

Prehsea saat acara pertemuan di Filiphina (Dok.PREHSEA)

Perjalanan bersama Prehsea tersebut membuka mata dan pikiran akan pentingnya situs Sangiran. Keduanya (Subur dan Tanto) bersepakat mewujudkan ide dan harapan mereka untuk ikut melestarikan dan menjaga Situs Sangiran demi generasi masa depan.

Pak Subur dan Pak Tanto adalah sebagian dari masyarakat Sangiran yang peduli terhadap Situs Sangiran. Tak berjalan sendirian, Museum Sangiran kini  dikelola oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Perlakuan terhadap temuan fosil di Laboratorium Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Tempat penyimpanan fosil temuan (Storage) BPSMPS

BPSMPS bertanggungjawab terhadap konservasi temuan di Situs Sangiran. Bersama-sama dengan BPSMPS dan juga Dinas terkait di Sragen dan Karanganyar, Sangiran mulai berbenah menuju Sangiran yang memberi nilai dan manfaat bagi khalayak ramai.

Sejarah Temuan Fosil di Sangiran

Lihat video selengkapnya di Sangiran Part 1: Menelisik Sejarah Asal Usul Manusia di Museum Sangiran Sragen – SOLO 24 JAM

Bermula dari penemuan peneliti dari Jerman GHR. von Koenigswald tahun 1934, ditemukan fosil Pithecantropus Erectus. Fosil-fosil hominid dari Sangiran didominasi oleh temuan tanpa sengaja oleh penduduk setempat saat mereka menggali tanah, maupun bekerja di kebun atau sawah. Dari warga lokal Sangiran, temuan-temuan dikumpulkan di rumah mbah Toto Marsono, kepala desa di salah satu area Sangiran.

Museum Sangiran memang dahulu hanya sebuah hunian masyarakat lokal yang dijadikan tempat pengumpulan fosil-fosil temuan. Mbah Toto Marsono, menghimpun dan menyimpan temuan warga. Makin hari, makin bertambah temuan tersebut tak mampu ditampung di rumah Toto Marsono.

Tampak Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan dan Museum Sangiran saat tahun 1984-2008

Hingga akhirnya pada tahun 1977, Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa Sangiran sebagai Cagar Budaya. Pada tahun 1988, sebuah situs museum dan konservasi laboratorium lokal sederhana didirikan di Sangiran sebagai bentuk penyelamatan fosil purba kala. Hingga pada 1996, Sangiran ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia di tahun, The Sangiran Early Man Site.

Sekarang, jika kamu berkunjung ke Sangiran, ada satu museum induk di daerah Krikilan, Kalijambe, Sragen. Museum ini berisi beragam koleksi yang telah disajikan secara modern dalam rangka edukasi dan informasi bagi pengunjung museum. Temuan-temuan fosil maupun artefak, baik dari temuan warga maupun peneliti, dikelola di museum oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Selain museum induk atau utama di Sangiran, terdapat klaster-klaster yang dibangun untuk menunjang museum utama. Terdapat lima klaster pengembangan Sangiran sebagai Destinasi Wisata Dunia.

  1. Klaster Krikilan (Pusat informasi tentang kehidupan manusia purba, tidak hanya di Sangiran melainkan di Indonesia)
  1. Klaster Ngebung (Informasi tentang sejarah penemuan Situs Sangiran sejak ditemukannya alat-alat serpih yang pertama oleh G.H.R Von Koniegswald (1934) dan fosil manusia purba pertama (1936))
  1. Klaster Bukuran (Informasi tentang evolusi manusia secara lengkap)
  1. Klaster Dayu (Informasi tentang penelitian-penelitan mutakhir)
  1. Klaster Manyarejo (Informasi tentang penelitian lapangan dan temuan warga lokal)

Bukan hanya museum saja yang bisa membuat kita berdecak kagum akan pesona Sangiran Kampung Purba. Datang langsung ke lokasi temuan, dan nikmati sensasi seakan menjadi detektif zaman purba dengan menyusuri pedesaan yang penuh akan kekayaan informasi mengenai kehidupan manusia jutaan tahun lalu.

Lihat video selengkapnya di Sangiran Part 1: Menelisik Sejarah Asal Usul Manusia di Museum Sangiran Sragen – SOLO 24 JAM

Koleksi di satu sudut Museum Sangiran

Pernah tahu nggak, kalau lokasi di Sangiran, meski sedikit terpencil, area ini seperti harta karun besar untuk laboratorium dunia. Di dalam timbunan tanah berusia 2 juta tahun lalu itu, banyak hal yang bisa ditemui.

Salah satu lokasi di Dusun Bapang merupakan kawasan Sangiran terbentang sungai dan irigasi, di Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen. Penemuan pertama kali di Sangiran, adalah Pithecantropus Erectus.

Pithecantropus Erectus dicetuskan oleh peneliti Jerman bernama Von Koenigswald. Di tahun 1932, seorang warga lokal Sangiran bernama Mbah Sumo Kenthing menemukan fosil tengkorak. Penemuan tidak komplit, masih diragukan apakah manusia atau bukan. Diperkirakan manusia karena bentuk muka dan dahi menyerupai manusia. Tetapi, ketebalan otak hanya 900 cc seperti otak kera. Hal inilah yang membuat Von Koenigswald memberi nama Pithecantropus Erectus (manusia setengah kera) di tahun 1936. Dari sungai inilah bermula pencarian fosil hewan, batuan, dan manusia. Masyarakat akhirnya dapat memahami tentang benda-benda prasejarah.

Satu dari temuan yang masterpiece adalah Sangiran 17 atau S17, kita kenal sebagai Homo erectus. Sangiran 17 adalah temuan fosil tengkorak Homo Erectus paling terkenal di dunia. Temuan ini relatif lengkap sehingga wajah Homo Erectus dapat direkonstruksi secara utuh. Duplikat S17 ditemukan hampir di seluruh museum-museum prasejarah utama di dunia.

Lokasi penemuan Sangiran 17 (S17) di aliran Kali Pucung

Lokasi temuan masterpiece Sangiran fosil tengkorak Homo Erectus atau Sangiran 17 di kawasan Kali Pucung. Perjalanan menyusuri aliran sungai Pucung membawa kita pada atmosfer detektif zaman purba. Pentingnya kehadiran lokasi ekskavasi Pucung di Sangiran menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah laboratorium penelitian dunia. Banyak peneliti yang datang ke Sangiran untuk belajar mengenai evolusi kehidupan manusia dari berbagai disiplin ilmu.

Salah satu lokasi ekskavasi didirikan museum rintisan sebagai field international school yang terletak di aliran sungai Kali Pucung. Terdapat temuan beberapa artefak dan fosil hewan juga manusia purba. Selain itu terdapat pula goa di dekat aliran Sungai Pucung, tak jauh dari area tersebut terdapat sebuah goa. Terlepas dari dunia ilmiah ekskavasi, di goa ini berkembang beberapa mitos masyarakat Sangiran.

Lihat video selengkapnya di Channel Youtube Wonderful Solo.

Susur Sungai Kali Pucung di Sangiran
Museum Nano atau PCTS Pucung Tanah Subur. Di sini didirikan museum rintisan, salah satu lokasi ekskavasi dan menjadi field school international. Daya tarik dan pesona Sangiran menjadi laboratorium penelitian dunia.

Menelusuri jejak penemuan manusia purba yang terserak, membuat Sangiran semacam ‘tambang’ fosil dan laboratorium dunia dalam ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan. Beberapa monumen didirikan untuk menghargai para penemu di lokasi temuan, dan spesimen yang ditemukan seperti Sangiran 27 atau S27 kita kenal sebagai Meganthropus Palaeojavanicus. Fosil ditemukan di tanah bongkahan hasil penggalian saluran Bapang tahun 1978. Tanah hasil penggalian dibuang ke arah selatan dari kanal. Penduduk setempat bernama Suherman dari dukuh Ngampon ketika mencari jangkrik dan rumput menemukan fosil di tanah bongkahan hasil penggalian tersebut. Temuan dilaporkan ke Kepala Desa, Toto Marsono. Saat ini fosil S27 dikonservasi di Laboratorium Paleoanthropologi dan Bioanthropologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Monumen Lokasi Penemuan S27 atau Megantropus Palaeojavanicus di Saluran Bapang.

 

Pesona Kubah Sangiran di Kampung Purba

Sangiran yang kita lihat sekarang ternyata pernah menjadi lautan. Mata air asin dijumpai di tengah ladang kurang lebih 600 m Timur Laut Museum Sangiran, Dusun Pablengan. Sumber air laut yang bercampur dengan lumpur vulkanik menjadi bukti bahwa Sangiran dahulu merupakan lautan. Fosil-fosil seperti cangkang kerang, gigi-gigi ikan hiu, cangkang kura-kura laut, koral dan lain sebagainya yang ditemukan pada lapisan lempung biru. Selain bukti-bukti fosil fauna laut, terdapat sumber air laut yang bercampur dengan lumpur vulkanik. Kini masih dapat dilihat di dusun Pablengan, di dekat museum Sangiran.

Mata air asin di Pablengan Sangiran Kampung Purba

Kenapa bisa begitu ya? Sangiran juga disebut dengan Kubah Sangiran. Jadi, secara geomorfologis, kubah Sangiran terbentuk oleh proses pengangkatan akibat tenaga endogen dan kemudian bagian puncak kubah terbuka melalui proses erosi, sehingga membentuk cekungan besar di pusat kubah yang diwarnai oleh perbukitan bergelombang. Ada daerah lautan, rawa, daratan, dan teras.

Pada cekungan itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau, ditinjau dari aspek paleoantropologis, paleontologist, geologis, maupun arkeologis.

Mata air asin di Pablengan Sangiran Kampung Purba

Pada awalnya, Sangiran merupakan daerah datar. Endapan-endapan dari bermacam-macam material membentuk lapisan tanah berusia jutaan tahun. Di setiap lapisan tersebut terdapat berbagai kehidupan, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Kemudian terjadi aktivitas geologi hingga terbentuk kubah di Sangiran. Pada akhirnya, puncak kubah terkikis erosi.  Sisa kehidupan masa lalu kemudian ditemukan di permukaan tanah.

Dalam kenyataannya, bio-stratigrafis atau lapisan tanah yang kini tampak di Sangiran telah sanggup bercerita mengenai banyak perubahan lingkungan yang terjadi. Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Grenzbank, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro. Masing-masing formasi memiliki usia bervariasi. Sangiran dan lapisan tanah penentu waktu merupakan aset sangat berharga bagi pemahaman kehidupan manusia selama Kala Plestosen di dunia.

Selama kurang lebih 2,4 juta tahun, telah terbentuk lima formasi tanah di Sangiran, yaitu

  1. Formasi Kalibeng (2,4 juta tahun silam),
  2. Formasi Pucangan (1,8 juta tahun silam),
  3. Grenzbank (900.000 tahun silam),
  4. Formasi Kabuh (700.000 tahun silam), dan
  5. Formasi Notopuro (250.000 tahun silam).

Berbagai titik penemuan kian hari, kian bertambah seiring perkembangan penelitian dari beragam disiplin ilmu. Identifikasi, klasifikasi, dan konservasi dilakukan terhadap fragmen fosil maupun artefak temuan peneliti maupun masyarakat lokal. Beberapa monumen didirikan untuk menghargai temuan warga lokal dan penelitian, kunjungan lapangan wisatawan juga dimudahkan dengan adanya monumen-monumen di Sangiran tersebut. Terdapat beberapa monumen, di antaranya:

Monumen Drepo. Monumen ini berada di Dusun Drepo, Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen. Di lokasi ini tersingkap endapan lempung hitam Formasi Pucangan. Pada Kala Plestosen Bawah di lingkungan Sangiran mulai berubah dari lingkungan laut menjadi lingkungan rawa. Di lokasi ini banyak ditemukan fosil binatang yang hidup di rawa seperti buaya, kura-kura, kuda sungai, dan berbagai jenis moluska. Selain fosil binatang di sekitar lokasi ini juga ditemukan manusia purba Homo erectus.

Monumen Mawardi. Monumen ini berada di Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen. Di lokasi ini tersingkap lapisan pasir fluvio vulkanik.Formasi Kabuh yang mencirikan lingkungan pada Kala Plestosen Tengah. Pernah ditemukan fosil tengkorak manusia purba Homo erectus, oleh Mbah Mawardi saat menggarap ladangnya tahun 1995 dan 1997.

Monumen Trianggulasi. Monumen ini didirikan di titik trianggulasi yang merupakan titik tertinggi di Kubah Sangiran. Lokasi ini ditemukan alat batu hasil budaya manusia purba di Sangiran tahun 1934.

Wonderful Sangiran: Oase di tengah Masyarakat Peduli Pariwisata

Membaca potensi Sangiran, masyarakat yang menamakan diri sebagai Wonderful Sangiran menggagas berdirinya Kelompok Sadar Wisata dengan beragam kegiatan dalam memupuk kebersamaan warga. Sebagai warisan dunia, Situs Sangiran merupakan destinasi pariwisata dunia yang bertumpu pada daya tarik dan informasi peradaban dunia.

Video selengkapnya : Sangiran Part 2: Wisata Warisan Dunia Yang Ramah Nilai – SOLO 24 JAM 

Selain dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium dan pusat informasi untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan. Situs Sangiran harus mampu memberikan nilai manfaat bagi masyarakat sekitar sebagai destinasi wisata. Kini, Sangiran beranjak menjelma destinasi pariwisata dunia yang bertumpu pada daya tarik dan informasi peradaban dunia.

Pengrajin Batu Souvenir Khas Sangiran Kampung Purba

Seiring berkembangnya waktu, Situs Sangiran berbenah dan kian berubah wajah. Pembangunan di berbagai sektor,memicu pembangunan infrastruktur seperti akses jalan,maupun fasilitas penunjang lainnya. Perkembangan pariwisata dapat menjadi faktor pendorong majunya masyarakat yang sejahtera, melalui sektor industri ekonomi kreatif. Pesona Situs Sangiran tak lepas dari pemberdayaan masyarakat ekonomi kreatif baik berupa kerajinan, kesenian, kebudayaan serta kearifan lokal.

 

Potensi ekonomi kreatif di tengah tanggungjawab dan partisipasi masyarakat pun  kian diperkuat dengan adanya peran pemerintah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Selain museum induk Sangiran di Museum Krikilan,wisatawan dapat berkunjung ke klaster museum lainnya, seperti Klaster Ngebung,Klaster Dayu, Klaster Bukuran dan Klaster Manyarejo.

Wisatawan dapat melihat temuan dan sejarah kehidupan masa lalu secara lengkap, yang disajikan secara aktraktif menarik, dan modern dalam rangka edukatif dan informatif. Klaster Ngebung tentang sejarah penemuan situs. Klaster Dayu tentang timeline usia tanah. Klaster Bukuran tentang evolusi manusia. Klaster Manyarejo tentang presentasi penelitian ekskavasi.

Kehadiran museum di tengah masyarakat Sangiran memberi berbagai dampak baik aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Terdapat beberapa masyarakat yang dengan membaca potensi peluang dan hambatan melakukan aktivitas yang memberdayakan diri secara ekonomi.

Terdapat beragam ciri khas Sangiran yang dapat menjadi cinderamata atau oleh-oleh. Industri di masyarakat berkembang di antaranya terdapat Sentra Kerajinan Batu yang terletak di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Ada juga Kerajinan Batik di Sangiran di Dusun Pungsari, Kecamatan Plupuh, Sragen. Selain itu ada pula Kerajinan Kancing Batok Kelapa di Desa Sendang, Bukuran, Sragen. Sangat menarik menjadi paduan yang tepat bagi kawasan yang bernilai dalam bidang pariwisata.

Kerajinan Batu Kapak Perimbas Souvenir khas Sangiran
Kesenian Batik Khas Sangiran Kampung Purba

 

Kesenian Batik Khas Sangiran Kampung Purba
Proses Pembuatan Kancing Bathok Kelapa di Sangiran
Proses Pembuatan Kancing Bathok Kelapa di Sangiran
Kerajinan Kancing Bathok Kelapa di Sangiran

Beberapa kunjungan wisatawan dapat bermanfaat dalam mempelajari masa lalu untuk belajar menata masa depan. Wisatawan dapat berkunjung ke lokasi-lokasi temuan di Sangiran, dan destinasi lain yang berdiri di Menara Pandang Sangiran, yaitu Rumah Baca Sangiran.

Kegiatan kesenian pun berkembang di masyarakat Sangiran. Paguyuban yang bernama Teater Sangir mengembangkan Seni Gejug Lesung khas Sangiran.

Kesenian ‘Gejug Lesung’ Teater Sangir
Kesenian ‘Gejug Lesung’ Teater Sangir

Video selengkapnya Sangiran Part 3: Perkembangan Sektor Ekonomi Kreatif di Sangiran – SOLO 24 JAM

Epilog: Menuju Sangiran yang Lebih Baik

Penelusuran sejarah panjang kehidupan masa lalu, seakan tanpa batas di tengah masyarakat yang berdaya dan mampu menghargai sumber daya miliknya sendiri. Kesadaran, kemampuan dan partisipasi semua segmen masyarakat dapat menunjang kemajuan dan kebaikan bersama. Hubungan erat antara masyarakat, dan peran serta seluruh komponen yang melingkupinya dalam mengelola Sangiran, melindungi dan menjaga kesinambungan warisan evolusi alam dan umat manusia.

Penemuan pun tak kan pernah usai dalam sebuah laboratorium besar dunia bernama Sangiran. Riwayat tak sesaat dan sejarah panjang kehidupan masa lalu sejatinya berjalan selaras dan harmoni. Sinergi berbagai komponen masyarakat yang menghuni area konservasi mewujudkan warisan dunia kebanggaan Indonesia. Minat, semangat, dan kecintaan masyarakat tumbuh akan pesona warisan dunia milik Sangiran, di tanah milik kita, tanah Indonesia.

Lestari sejarah alam dan budaya di Sangiran, menuju destinasi pariwisata yang ramah lingkungan dan ramah masyarakat. Mewujudkan Sangiran yang mampu memberi nilai dan manfaat tanpa merusak lestarinya cagar budaya masa lalu, bagi kehidupan masa kini, untuk generasi masa depan. Tugas kita bersama untuk menjaga, merawat dan menghargai warisan milik kita, milik Indonesia.

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

 

Video Lengkap Dokumenter Sangiran Kampung Purba 

Sangiran Part 1 (Menelisik Sejarah Asal Usul Manusia di Museum Sangiran Sragen)

Sangiran Part 2: Wisata Warisan Dunia Yang Ramah Nilai

Sangiran Part 3: Perkembangan Sektor Ekonomi Kreatif di Sangiran

 

Endah Laras Penyanyi asal Solo: ‘Nglaras’ dengan Musik Surgawi ala Keroncong

0

Sudah kenal mbak Endah Laras? Kenal dong. Penyanyi asal Solo yang penampilannya di panggung nggak lepas dari kebaya, sanggul, dan ukulele (gitar kecil). Belum lagi mbak Endah Laras ini lemu ginuk-ginuk dengan suara yang mendayu-dayu, kepenak unine. Nikmat plus nglaras tenan ndengerinnya.

Terlahir sebagai warga Solo yang merantau ketika SMP dan SMA, membuat Endah Laras memiliki beragam etnis kawan-kawan sepermainannya. Tentu saja hal ini makin menumbuhkan kecintaannya terhadap seni tradisi Jawa.

Kiprahnya di bidang tarik suara, bermula dari darah seni yang lekat di keluarganya. Lahir di Sukoharjo, 3 Agustus 1976 dari seorang dalang, ayah, Sri Djoko Raharjo, dan ibunya, Sri Maryati seorang penari. Kesenian tradisi terutama karawitan Jawa sudah diajarkan kedua orang tuanya sejak kecil.

Sepulang dari Jakarta ke Solo, di tahun 1995, Endah Laras mulai jatuh hati dengan keroncong. Aura positif alunan musik keroncong memberinya kedamaian, ketentraman, dan ketenangan. Lewat Orkes Keroncong (OK) Purnama Karya, Endah Laras mulai mengenal keroncong.

Meski di OK Purnama Karya lebih banyak musisi yang sepuh-sepuh, Endah merasa diberi ruang untuk berlatih keroncong. Langgam Jawa sebagai basic musikalitasnya, membawanya mempelajari keroncong asli, stambul, dan langgam jenaka.

Keroncong itu musik surgawi”, sambil tertawa renyah Endah Laras meminta untuk mengamini apa yang ia rasakan tentang musik keroncong. Endah Laras yang juga tampil sebagai salah satu pengisi acara Solo Keroncong Festival 2017 ini punya cerita tersendiri tentang musik keroncong dan juga sang maestro keroncong Waldjinah.

Ia terkesan dengan energi dalam bermusik keroncong Waldjinah yang luar biasa. Bahkan di salah satu kesempatan Endah Laras ketika tampil mengenakan sanggul untuk bernyanyi keroncong, Waldjinah membantunya membetulkan tusuk konde Endah Laras yang nampak agak miring. “Reneo, nduk! Tak benakke tusuk kondemu, tak benakke lendangmu.” Sikap welcome Waldjinah yang membuat Endah pun mendukungnya untuk lebih mempelajari keroncong di usianya yang masih lulus dari bangku SMA.

       

Sedari kecil, Endah telah menjuarai beberapa kompetisi menari dan menyanyi. Tak henti belajar teknik menyanyi, melintas batas tanpa meninggalkan identitas Jawa-nya, membuat kakak Sruti Respati ini mempunyai tempat di hati penikmat seni Indonesia, terutama keroncong.

“Keroncong Gemes”, “Lelo Ledhung”, “Aja Kanda Sapa-Sapa”, “Gajah Lampung”, dan “Keroncongkoe” adalah deretan album yang berhasil ia lahirkan. Berkolaborasi dengan berbagai komposer, dalang, koreografer, bahkan sutradara dari lintas seni dan generasi, membuat eksistensi Endah Laras makin mumpuni. Jam terbang dan kemampuannya tak diragukan sebagai musisi kebanggaan Solo, khususnya musik keroncong.

Sukses selalu mbak Endah Laras, semoga harapannya untuk mendidik generasi muda untuk mencintai musik keroncong, terutama di Ndalem Kaendahan, tercapai dan berjalan lancar.

Selengkapnya di Video Profil Endah Laras

Buat para pembaca Wonderful Solo, kemarin ketinggalan nonton Solo Keroncong Festival nggak? Ada penampilan mbak Endah Laras juga lho.

Solo Keroncong Festival (SKF) 2017 sukses dihelat di Benteng Vastenberg, 21-22 Juli 2017 lalu. SKF 2017 dimeriahkan oleh sembilan grup orkes keroncong dari berbagai daerah, antara lain Orkes Keroncong Pempek (Kediri), Orkes Keroncong Ranisinar (Bandung), Orkes Keroncong Smk Sultan Ibrahim Johor Baru Malaysia, Orkes Keroncong Marlubu (Malang) dan Orkes Keroncong SKF ’17. Sejumlah musisi keroncong kondang yang turut hadir yaitu Hj. Waldjinah, Yatie Pesek, Endah Laras, Sruti Respati, Iin Indriani, Bambang Heri dan Singgih Sanjaya.

Yang belum bisa nonton kemarin, buat tombo gelo, bisa cek video liputannya di Wonderful Solo Youtube. 

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

Sumber Foto (Koleksi pribadi www.endahlaras.com dan instagram @endahlaras_ )

Wonderful Solo Giveaway: Mau Menginap dan Dinner Gratis di Alila Hotel Solo? Baca Selengkapnya!

0

Halo, pembaca setia Wonderful Solo!

Wonderful Solo kembali mengadakan Giveaway untuk para pembaca Wonderful Solo nih. Kali ini kamu berkesempatan mendapatkan:

1st winner
One Night Stay at Alila Hotel Solo
2nd winner
Dinner for Two at Alila Hotel Solo
3rd winner
Free Syal Batik Candi Luhur

Sebelum mengikuti giveaway ini, yuk baca dulu syarat dan ketentuannya:

  • Wonderful Solo Giveaway terbuka untuk umum.
    Giveaway ini berlangsung mulai Senin, 17 Juli 2017 dan ditutup pada Senin, 31 Juli 2017.
  • Peserta dengan poin tertinggi akan menjadi pemenang, dan berhak mendapatkan “Free Hotel Stay at Alila Hotel Solo”.
  • Untuk pemenang “Free Dinner at Alila Hotel Solo dan Syal Batik Candi Luhur” akan kami pilih secara acak.
  • Pengumuman pemenang paling lambat satu minggu setelah tanggal penutupan.
  • Pemenang akan dihubungi langsung oleh Wonderful Solo melalui e-mail.
  • Hadiah tidak dapat diuangkan atau ditukar dengan barang lain.
  • Peserta harus melakukan sign up untuk mengikuti giveaway ini, dengan menyertakan nama, alamat email.
  • Untuk pemenang di area Solo hadiah bisa diambil di kantor Wonderful Solo, untuk pemenang dari daerah lain hadiah akan kami kirim dengan biaya kirim ditanggung oleh pemenang.

Lalu, bagaimana cara mengikuti giveaway ini? Cukup daftarkan dirimu pada formulir di bawah ini dan ikuti instruksi selanjutnya.
Jangan lupa kumpulkan poin sebanyak-banyaknya ya!

Wonderful Solo Giveaway

Tahu Kupat ‘Sido Mampir’ Solikhin: Kuliner di Solo Wajib Dicoba

0

Mau makan kuliner khas Solo? Tahu Kupat ‘Sido Mampir’ Solikhin wae, Guys. Pengen tahu apa aja isi tahu kupat khas Solo? Cita rasanya juga khas Solo, manis gurih, ada pedes, dan ada kriuk-kriuknya. Hayo penasaran rasanya kan?

Tahu kupat ‘Sido Mampir’ Solikhin ini terletak tidak jauh dari area Stasiun Balapan. Kurang lebih 500 m dari pintu keluar stasiun ke sisi Utara menuju area jalan utama Slamet Riyadi. Di pojok perempatan, terdapat sebuah masjid bernama Masjid Sholikhin. Tahu kupat di sini lebih terkenal dengan Tahu Kupat Solikhin karena lokasinya berada di deretan depan masjid Solikhin. Tahu kupat meski bukan menu nasi, namun cukup mengenyangkan. Kupat yang dimaksud adalah ketupat diiris dan disajikan di atas piring. Selain ketupat ada irisan tahu yang digoreng sebagai bahan utama tahu kupat. Tahunya fresh from the ‘wajan’ dan enak dimakan selagi hangat.


Ketupat, ketemu tahu goreng, tauge, irisan kol, irisan bakwan, mie kuning, plus kacang goreng. Kuahnya kuah kecap dan air bawang yang diletakkan di tempat berbahan gerabah. Maknyus deh. Tak ketinggalan, taburan seledri. Selain isiannya, kita pun bisa request pedesnya, rawit utuh atau rawit ulek. Yang membuat tahu kupat di sini makin ngangeni ada Telur Goreng ditambah di atasnya. Aroma telor goreng sambil menunggu pesanan datang, wah ngawe-ngawe alias bikin laper.

Tak heran jika Tahu Kupat Sido Mampir jadi favorit banyak pecinta kuliner Solo. Jadi jangan berebut tempat duduk ya. Disekecakne, bos. 

Warung Tahu Kupat “Sido Mampir” ini ada sejak 1987. Proses masaknya pun masih tradisional menggunakan anglo dan areng. Bikin masakan makin sedep. Selain itu, ada live music-nya musisi Solo bergitar lho.

Buat yang penasaran icip ke sini, langsung aja ke Jalan Gajah Mada 95 Punggawan, Banjarsari (sebelah Selatan Masjid Solikhin).Harga Tahu Kupat mulai Rp 9.000, dan cukup Rp 11.000 buat tambahan telur goreng. Buka setiap hari pukul 07.00-18.00 WIB.

Kalau ke Solo, mampir aja ke Tahu Kupat ‘Sido Mampir’ Solikhin. Cita rasa khas Solo manis gurih di tahu kupat telor bakalan bikin kangen.

Jadi, kapan mau ke Solo?

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

 

Pasar Jamu Nguter Sukoharjo: Sentra Ramuan Sehat Tradisional di Solo

0

Percaya gak kalau dahulu mulanya penjual jamu itu justru laki-laki? Pengen tahu ceritanya?

“Mas, jamune maas…!” Memang sih, sebagian besar orang menganggap jamu lekat dengan mbok-mbok bakul jamu gendong. Penjualnya identik dengan seorang perempuan. Dahulu, saat kemudahan akses ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan tak menjangkau ke pelosok desa, masyarakat lebih mempercayakan kesehatannya pada ‘orang pintar’ atau ‘dukun’. Lewat tangan mereka lah, beberapa ramuan tradisional didistribusikan dan dibarter dengan bahan makanan lain melalui seorang laki-laki. Lalu, gimana ceritanya bisa sampai jadi jamu gendong?

Kala itu zaman pemerintahan Kerajaan Mataram terpecah menjadi Keraton Ngayogyakarto dan Surokarto. Rumah sakit dengan pengobatan modern tak menjangkau warga pelosok desa. Seiring waktu, jamu yang mulanya dipikul seorang laki-laki, beralih dijajakan oleh wanita dengan cara digendong. Laki-laki kala itu tenaganya justru dialihkan menjadi petani. Jamu didominasi dengan kebutuhan jamu untuk perempuan, seperti saat mengandung atau melahirkan. Karena usaha ini menguntungkan, banyak perempuan yang akhirnya berminat untuk menjajakan jamu. Jamu gendong akhirnya lekat dengan perempuan bakul jamu yang berkeliling menawarkan jamu. “Mas, jamune maas..”

Nah, fyi, para pedagang jamu gendong di kota besar ini berasal dari satu daerah di Sukoharjo, tepatnya di Kecamatan Nguter. Setelah masa kemerdekaan Indonesia tepatnya, banyak penduduk desa mengadu nasib ke ibukota, termasuk para penjual jamu di Sukoharjo.  Namun, sekarang, tak jauh dari Solo, dengan mudah kita temui satu lokasi yang menjadi sentra penjualan jamu, di Pasar Jamu Nguter Sukoharjo.

Di Sukoharjo, ada salah satu pasar yang merupakan sentra penjualan jamu. Pasar ini diresmikan 1 April 2015 lalu sebagai Pasar Jamu Nguter Sukoharjo. Meskipun tidak hanya menjual jamu saja, namun Nguter memiliki keunikan tentang sejarah jamu nasional. Nguter memiliki kurang lebih 1000 orang yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Desa Nguter memiliki potensi jamu rumahan yang besar, selain itu telah terdapat 5 pabrik jamu yang ada di Nguter. Beragam merk jamu rumahan dengan kode usaha departemen kesehatan dan industri kecil banyak ditawarkan. Oleh pemerintah Kabupaten Sukoharjo dibuatkan pasar untuk menampung para pedagang jamu. Lokasinya berada di Jalan Raya Solo-Wonogiri, Pasar Nguter, Sukoharjo.

Meski tidak lepas dari sejarah panjang, mengapa sentra jamu ada di Sukoharjo? Ada sosok wanita bernama Yoso Hartono dari Purwodadi tinggal di Solo tahun 1932. Ia menjual jamu di Pasar Nguter. Awalnya ia merugi, namun setelah memutuskan pindah ia mencoba menjual jamu beras kencur, kunir asem, jamu pahitan serta jamu hasil olahan yang siap diminum. Jamu dijual dengan harga ½ sen, dan dalam sehari ia bisa meraup 15 sen.

Jejak sukses Yoso Hartono diikuti oleh pedagang lain. Selain jamu godokan, jamu berkembang menjadi jamu racikan yang telah dibungkus. Sementara banyak warga Nguter yang mengikuti langkah Bu Yoso masih berjualan jamu dengan cara tradisional dengan cara berjualan berkeliling membawa jamu godokan dengan menggunakan tempat khusus berupa tenggok yang digendong di punggung. Pada tenggok ini berisi botol-botol yang berisi jamu racikan. Orang Jawa menyebutnya dengan jamu Gendong. Hingga sekarang, penjual jamu gendong masih cukup mudah dijumpai.

Para pedagang jamu ini melakukan inovasi  dengan membuat resep dengan merek sendiri-sendiri walaupun kegunaan/khasiatnya sama. Seiring waktu, industri jamu di Nguter mengalami pertumbuhan yang besar. Salah satu penanda pertumbuhan dari industri jamu di Nguter adalah munculnya koperasi jamu Indonesia atau KOJAI yang diketuai Murtejo. Ide pembentukan KOJAI dimunculkan salah satu anak Ibu Yoso Hartono, Eko Cahyono dan mendapat dukungan penuh dari Lurah Desa Nguter, Paimo serta Camat Nguter, Haryanto. Selain Eko Cahyono, sejumlah anak Ibu Yoso Hartono juga menjadi penanda kesuksesan industri jamu di Nguter seperti Yulianingsih (Cik Nelly) yang bersama suaminya, Slamet Riyadi mendirian perusahaan pengolahan jamu yang bernama CV. Wisnu Joglo Kresna Wisnu (WJKW) yang berada di sisi timur Pasar Nguter.

Yoso Hartono pun seperti  menjadi pioneer penanda sejarah munculnya industri jamu khususnya jamu racikan (godokan) di Nguter, karena berkat usahanya sejak menciptakan jamu olahan sejak tahun 1973 silam. Pada tahun 1983, Yoso Hartono meninggal dunia dan pengelolaan industri jamunya diteruskan anak-anaknya.

Pembaruan pasar Nguter pada Agustus 2013 dengan dana Rp 13,4 miliar. Berdasarkan data dari kantor Lurah Pasar Jamu Nguter, zona jamu mendominasi unit kios dan los yang ada di Pasar Nguter ini.

Untuk kios, zona jamu memiliki 55 unit yang berada di lantai atas dan bawah. Sedang zona jamu di bagian los pasar ada 119 unit yang berada di lantai atas maupun bawah. Meski juga ditempati para pedagang non jamu seperti pedagang sembako, buah-buahan, warung makan, pakaian, dan sebagainya. Namun, mayoritas pedagang pasar jamu Nguter adalah para pedagang jamu.Termasuk tujuh produk jamu racikan yang berskala besar yang diproduksi CV WJKW yaitu Gujati, Sabdo Palon, Bisma, Anoman, Puntodewo, Narodo.

Adanya Pasar Jamu Nguter Sukoharjo ini membuktikan bahwa jamu mampu menjadi kuliner kontemporer yang bisa memperkaya pilihan kuliner yang ada di Solo.

Jadi, mau sehat dengan ramuan tradisional ala Pasar Nguter Sukoharjo?

Ayo ke Solo!

Sumber referensi sejarah:

Begini sejarah Pasar Jamu Nguter

Suharmiati. 2003. Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong. Agromedia Pustaka

Kampung Wayang: Desa Wisata Edukasi dan Budaya di Solo

0

Mau tahu rekomendasi wisata edukasi yang cocok buat keluarga dan teman-teman di kota Solo? Wisata sekaligus mengenal budaya Indonesia, khususnya tentang wayang. Simak ulasannya berikut.

Jika biasanya, wayang bisa dinikmati dengan menyaksikan pertunjukan semalam suntuk di berbagai perhelatan acara besar. Tidak dengan Kampung Wayang ini. Dolan ke Kampung Wayang, Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri ini bisa membuat kita merasakan atmosfer yang begitu kuat dalam melestarikan budaya Jawa. Dolan ke Desa Wisata Kampung Wayang kita bisa menemukan masyarakat yang begitu mencintai kebudayaannya sendiri, budaya Indonesia. Di sini, kita dapat berkunjung dan mengetahui cara pembuatan wayang kulit lho. Penasaran Kampung Wayang di Wonogiri ini seperti apa? Tim Wonderful Solo membagi cerita dolan ke Kampung Wayang nih.

Siang hari yang terik, tim Wonderful Solo dolan menuju ke daerah Wonogiri. Wonogiri yang dimaksud tidak terlalu jauh dari perbatasan Sukoharjo, selatan Solo. Memilih jalur Tawangsari menuju Manyaran, kami menempuh perjalanan berkelok-kelok di pedesaan melewati persawahan Sukoharjo. Sepanjang perjalanan, disuguhi pemandangan area sungai-sungai yang masih sangat asri khas pedesaan. Benar-benar memanjakan mata. Meski terik, namun setelah hampir sampai justru kami mendapati suasana sejuk, sepoi-sepoi dan cerah di Manyaran. Sesampainya di Desa Kepuhsari, terdapat gapura bertuliskan Desa Kepuhsari, Manyaran. Pertanda kami sudah dekat dengan Kampung Wayang atau Wayang Village. 

Wilayah perbukitan dengan hamparan sawah hijau dilengkapi air terjun musiman ini tak jauh dari Solo. Cuaca sejuk kala musim hujan, dan cerah di saat musim panas. Jarak tempuh sekitar 1—2 jam, tepatnya di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia.

Di Kepuhsari ini terdapat salah satu desa yang asyik untuk menjadi alternatif wisata edukasi bersama keluarga dan kerabat, yaitu Kampung Wayang, Kepuhsari, Manyaran. Suasana pedesaan yang asri, hijau dan sejuk sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Terlebih lagi, di Desa ini merupakan desa penghasil wayang yang cukup massif dan produktif. Masyarakat desa ini pun menyadari potensi desanya dalam pembuatan wayang, maka dibentuklah Kampung Wayang atau Wayang Village.

Beberapa rumah asli limasan khas tradisional Jawa Tengah terdapat banyak berjajar di sepanjang kampung. Sungguh pemandangan yang asyik untuk melepas penat dari hiruk pikuk kota besar. Rumah-rumah limasan di Kampung Wayang ini pun beberapa dijadikan guest house. Wisatawan dapat menginap di rumah-rumah warga yang juga merupakan guest house. 

Selain itu, wisatawan atau pengunjung dapat menikmati sepoi-sepoi angin di halaman rumah limasan dengan menikmati sajian kuliner khas Wonogiri. Di antaranya adalah Thiwul, makanan berbahan dasar singkong. Ada pula, tempe benguk makanan sehat berbahan dasar benguk, atau yang biasa digunakan sebagai pengganti kedelai. Selain makanan terdapat pula jamu, minuman sehat berbahan dasar rempah-rempah.

Selain menikmati bermalam di suasana desa, kita dapat menyaksikan proses pembuatan wayang kulit, pertunjukan wayang kulit, workshop pembuatan wayang, display galeri wayang, aneka kerajinan yang dihasilkan di kawasan Manyaran. Bagi wisata keluarga pun, anak-anak akan bebas berekplorasi tentang alam pedesaan, berlari-lari di halaman yang sejuk, sekaligus bisa belajar mengenal kebudayaan asli Indonesia, yaitu wayang.

Kegiatan seperti melihat proses pembuatan wayang, mengenal kisah filosofi wayang dan cerita di balik tiap kisah tokoh wayang. Belajar meneladani karakter baik dan buruk, kebaikan melawan kejahatan, loyalitas dan dedikasi, dan masih banyak hal lagi yang bisa didapatkan dari wisata edukasi serta budaya di Kampung Wayang ini.

Wayang yang dibuat di Kampung Wayang Kepuhsari Manyaran ini tersohor karena kualitasnya. Kerapian, kehalusan, dan keindahan wayang buatan Kampung Wayang ini tidak dilewatkan oleh dalang-dalang hebat sekelas Ki Mantep dan banyak lagi dalang lain yang mengambil wayang dari Kampung Wayang Kepuhsari. Kampung Wayang memiliki peran penting dalam kelestarian seni Wayang Kulit.

Wayang kulit sejak abad pertama telah digunakan sebagai sarana penyebaran agama di Indonesia. Kini kesenian wayang kulit tetap digemari karena setiap karakter dan cerita penuh dengan makna filosofis mendalam yang cocok diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai wayang kulit telah merasuk dalam kehidupan warga Desa Kepuhsari. Penduduk Desa Kepuhsari telah membuat wayang kulit secara turun temurun. Hasil karyanya sangat halus dengan ukiran yang rumit dan warna warni yang cantik.

Dalam pembuatan wayang terdapat beberapa tahap. Ketelitian, kecermatan dan kesabaran sangat dibutuhkan dalam mencipta wayang kulit. Dari mulai nyorek, ngeblak, tatah, sungging, dan gapit. Mengintip pembuatannya, terdapat beberapa alat dan bahan dalam membuat wayang. Ada alat tatah bahan kulit, menggambar pola di kulit, tahap memahat yang detail, semua dilakukan oleh masyarakat pembuat wayang yang berada di Kampung Wayang ini dengan ketelitian tinggi dan juga kecintaan terhadap budaya sendiri.

Wayang, seni bertutur lisan ini merupakan pertunjukan di masyarakat yang telah turun temurun. UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 7 November 2003.

Generasi muda pun tidak luput berperan dalam melestarikan (nguri-uri) budaya Indonesia. Dengan berwisata ke Kampung Wayang, kita pun dapat belajar mencintai kekayaan alam dan budaya Indonesia yang menjadi pesona di kawasan Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri.

Mau tahu lebih lanjut keseruan jalan-jalan ke Desa Wisata Kampung Wayang Kepuhsari, Manyaran? Ayo ke Solo aja!

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

Most popular

Sedapnya Kuah Kecap Tahu Kupat Pak Gombloh

Tahu Kupat merupakan salah satu makanan khas kota Solo. Tahu kupat terbuat dari tahu yang dipotong berbentuk dadu kecil-kecil, dipadu dengan ketupat, bakwan, mie kuning...