Mila Marlina, Pelari Indonesia Lintas Alam Asal Solo: Wonderful International Ultra Trail Runner-nya kota Solo

0
670

Pernah membayangkan lari dalam jarak lebih dari puluhan bahkan ratusan kilometer dengan target waktu? Capek, ya jelas lah ya. Jika kamu menganggap hanya atlet lari saja yang bisa melakukannya, Eits, anda salah sangka! Tim Wonderful Solo kali ini  memberikan ulasan profil salah satu figur Wonderful kota Solo. Mila Marlina, ibu rumah tangga usia 45 tahun yang merupakan International Ultra Trail Runner dari kota Solo yang luar biasa inspiratif.

Awalnya, saat saya dijadwalkan untuk bertemu dengan Mila Marlina yang terbayang nanti akan interview dengan atlet pelari internasional. Dugaan saya, saya akan bertemu dengan sosok yang memiliki postur badan atletis dan kekar. Ekspektasi saya mulai berubah ketika mendapati Mila Marlina dengan postur mungil, cantik dengan wajah khas oriental yang tak lepas dari senyuman yang amat ramah. Rekan saya yang sudah lebih dahulu datang, tampak asyik ngobrol dengan ‘Cik Mila’. Di depan Mila bahkan sudah dipesan ice dalam cup restoran siap saji tempat kami berbincang. Bukan nampak seperti atlet yang sangat menjaga makanan atau minuman.

Warga asli Solo yang nyentrik ini prestasinya luar biasa lho. Bayangkan saja, di usia 45 tahun, dengan postur tubuh mungilnya, Mila Marlina mampu mendapatkan tiket untuk mengikuti ajang lari terbesar di dunia yaitu Ultra-Trail du Mont-Blanc di tahun 2017, Agustus mendatang. Gelar ‘International Ultra Trail Runner’ pun ia sandang karena prestasinya dalam trail run (lari lintas alam) yang tidak jarang bermedan ekstrim. Selain itu, Mila Marlina juga menjadi satu-satunya peserta wanita di MesaStila Challenge & Ultra 2015, kategori lari 100 K, dan berhasil menjadi salah satu finisher dengan waktu 29 jam 7 menit 4 detik.

Perlu kamu tahu Guys, Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB) adalah ajang lari maraton paling kompetitif dan bergengsi di dunia. UTMB berlangsung setahun sekali di Pegunungan Alpen. Rute Tour du Mont Blanc melalui Prancis, Italia dan Swiss. Dengan jarak 170 km dan kenaikan ketinggian atau elevasi total sekitar 10.000 m. Iiih wow, bukan?

Ajang ini dianggap sebagai salah satu lomba lari paling sulit di Eropa, dan salah satu yang terbesar di dunia. Rekor pria dengan waktu 20 jam 11 menit 44 detik dan rekor wanita 22 jam 37 menit 26 detik.

Lalu, bagaimana kisah Mila Marlina ini bisa dapat tiket ke Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB) 2017?

Mila Marlina Goes to Ultra-Trail du Mont Blanc 2017

Tidak mudah bagi Mila Marlina hingga sampai pada Goes to Ultra Trail d Mount Blanc 2017. Seorang peserta harus memiliki poin cukup dari beberapa event ultra yang diakui (qualifying race) di seluruh dunia. Biasanya sebuah event Ultra-Trail, finisher yang mampu menyelesaikan lomba tanpa melampaui batas COT (cut off time) akan mendapatkan 1—4 poin, sedangkan untuk lomba kelas UTMB membutuhkan 9 poin dalam 3 kali race. Setelah mencukupi poin, ada pula sistem drawing atau undian, karena peserta hanya terbatas.

Mila mengisahkan bahwa ia berlatih 10 km setiap hari untuk menjaga staminanya. Pada setiap harinya, ia akan menghukum dirinya sendiri jika melewatkan satu hari tanpa lari, dengan cara menambahkannya di hari berikutnya, 20 km atau selebihnya. Tentu saja itu membuatnya lebih bersemangat dan disiplin terhadap aturannya sendiri, tanpa melewatkan hari untuk lari. Hingga sampai keberhasilannya pada race iseng pertamanya di Bali Marathon 42,195 km atau Full Marathon.

Saya lari hanya untuk jaga stamina aja. Tiap hari lari 10km, iseng ikut maraton. Awalnya start Bali Marathon 2014, Full Marathon. Tujuh jam saya harus lari setengahnya. Terus di luar perkiraan saya, 4 jam 41 menit. Suatu achievement”, kenang Mila Marlina pada kisah race pertamanya.

Semacam candu, lari bagi Mila merupakan kepuasan tersendiri ketika berhasil mencapai finish. Ia pun merasakan berhasil mengalahkan diri sendiri, tanpa harus bersaing dengan orang lain. Berbeda halnya dengan lari sprint, Mila mengakui di usianya kini ia tak cukup mampu untuk lari sprint. Ia mengungkapkan bahwa dirinya justru memiliki kestabilan cukup tinggi untuk menempuh lari jarak jauh dalam waktu yang cukup lama. Itulah yang membuatnya lebih memacu diri untuk menantang dirinya sendiri untuk mengikuti lari dengan kriteria jarak bertahap.

Mila pun menyukai tantangan. Selain menikmati tantangan di kriteria jarak yang lebih besar, candu berlari ini membawanya pada beragam pengalaman ketika berlari. Ibu dari Chrisya dan Melisa ini pun merasa dirinya harus mengatur pola pikirnya untuk bisa mengatur dan menguasai dirinya. “Pikiran itu yang bisa ngedrive badan kita”, ujar Mila, istri Andi Prasodjo.

Menjadi pelari ultra menurut Mila bukan hanya fisik saja yang menjadi bekal utama. Mental sangat berpengaruh dalam berlari, 85 % mental, dan selebihnya 15 % fisik. Saat dirinya yakin saat start lari dalam kondisi prima, bisa jadi di tengah lomba ia tersesat karena medan yang sulit, atau bahkan asam lambung yang naik hingga perlu dievakuasi.

Mila pun hingga kini masih rajin berlatih di area gym atau fitness, juga berlatih lari. Begitu pula dengan catatan prestasi Mila Marlina yang mengagumkan dan inspiratif, hingga mampu menembus tiket UTMB.

Mila yang kini tinggal di daerah Solo Baru ini telah mencatatkan beberapa prestasi dalam dunia lari Indonesia. Di antaranya prestasinya adalah:

  1. Jakarta Marathon (42,195 km), Oktober 2014, Finisher
  2. Tambora Trail Run (42 km) April 2015, Juara 1. Mila mengisahkan ia tak menduga bisa berada di podium 1 dengan jarak 42 km.
  3. Gepang Marathon (42 km) Mei 2015, Juara 1
  4. Singapore Sundown Marathon (42,195 km) Mei 2015, Finisher
  5. Ijen Trail Run (70 km), Juli 2015, Finisher.
  6. Bill Maybank Bali Marathon (42,195 km) Agustus 2015, Finisher
  7. Bromo Marathon (42 km) September 2015, Juara 2
  8. Penang 100 Ultra (100 km) September 2015, Finisher
  9. Mesastila Challenge Ultra (100 km) Oktober 2015, Juara 1
  10. Ultra Trail Hongkong (156 km) Februari 2016, Juara 3 Master Female. Mila merasakan perjuangannya di UTHK setengah mati untuk bisa mencapai finish dalam waktu 48 jam.
  11. Komando Run (64 km) April 2016, Juara 2
  12. Sleman Ultra (50 km) Mei 2016, Juara 2
  13. Bromo Marathon (42 km), Agustus 2016, Juara 1
  14. The Most Beautiful Thing (TMBT) Ultra (100 km), September 2016, Finisher
  15. Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra (102 km), November 2016, Juara 3
  16. Coast to Coast Ultra (70 km), Januari 2017, Juara 2
  17. Borneo Ultra Marathon (100 km), February 2017, Finisher
  18. Beach Bunch Trail Brunei (100 km), February 2017, Finisher
  19. Lintas Sumbawa Relay (160 km), April 2017, Finisher
  20. Komando Run (65 km), April 2017, Juara 2 Master Female
  21. Kebun Raya Bogor KRB 200 Ultra (100 km), Mei 2017, Juara 1 

Kecintaannya dalam dunia lari khususnya trail run, bukan tanpa alasan. Bermula dari ajakan kawan untuk hiking. Tak tanggung-tanggung, Gunung Rinjani merupakan pendakian pertamanya. Dilanjutkan dengan Gunung Semeru, Kerinci, Lawu, Merapi, Merbabu, Andong, Ciremai, Gede, Pangrango, Latimojong, Cartensz Pyramid (Papua), Kinabalu (Malaysia), Kilimanjaro (Afrika), dan Aconcagua (Argentina).“Sense of finish itu sama dengan sense of summit,” jelas Mila.

Dalam pendakiannya, ia merasakan kedamaian hati ketika mencapai puncak. Hingga akhirnya, kedamaian itu membuatnya mampu meredam kemarahannya terhadap Tuhan, karena rasa berduka yang amat dalam atas kepergian ayah Mila di Desember 2012. Beragam aktivitas fisik ia lakukan untuk meredam kesedihannya. Namun, pilihannya kini jatuh pada ultra-trail.

Mila menceritakan kisah mulanya menggeluti bidang lari. Lulusan S2 Accounting Management University of Wollongong Australia ini menuturkan hobinya hiking karena ajakan kawannya menjadi awal mula ia menekuni ultra-trail run. Sebenernya awalnya, bukan lari, saya bukan pelari. Awalnya saya itu suka naik gunung. Saya suka ikut open trip. Di antaranya Kinabalu dan beberapa gunung seven summits seperti Kilimanjaro, Carstensz, Aconcagua. Tapi waktu di Aconcagua, saya gagal summit karena hipoxia (red:kekurangan oksigen seluruh tubuh).”

 

Mantra Sang Pelari

Dunia Ultra Trail masih sedikit orang yang tahu. Saya itu kalau cerita sama orang lari 100 km gitu, mikir-mikir lho emang. Ya kan aneh to. Buat orang Solo, itu aneh, sekalipun di tempat gym, lingkungannya orang olahraga. 100 kilo? Mendingan ga cerita deh,” terang Mila ibu dua orang anak ini dengan dialek khas Solo.

Berlari dalam jarak yang cukup panjang, dengan medan bukan hanya jalanan mulus, bisa menanjak, menurun, berbatu, dan masih banyak tantangan lain yang cukup ekstrim dalam trail run. Membahayakan diri dari berbagai hal, baik cedera, sakit, maupun hilang atau tersesat dalam perjalanan lari. Mila sosok yang pantang menyerah dan terus berusaha demi mencapai targetnya.

Tentu saja bukan perkara yang mudah, untuk dapat melewati jarak cukup jauh, menuju finish. Haruki Murakami dalam bukunya menyinggung soal mantra apa yang diucapkan untuk tetap menjaga semangat selama berlari dalam lomba maraton? Jika pertanyaan ini kamu tanyakan pada beberapa pelari maraton, maka jawabannya akan berbeda-beda. Pelari berlari sejauh 42,195 km menunjukkan betapa sulitnya sebuah perlombaan maraton yang sesungguhnya.

Mila Marlina dalam sebuah tulisan singkatnya menuliskan bahwa, ada pepatah di kalangan pelari yang mengatakan, “If you want to talk to God, be an ultra runner.” Saat dirinya merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk berlari, bahkan untuk berdiri saja tak sanggup. Berada sendirian di malam hari di tengah hutan degan kondisi yang semakin lemah, ia meminta berulang-ulang kepada ‘Yang Di Atas’. Please God, Give me the strength. Semacam mantra yang ia rapalkan berulang. Kekuatan itu entah darimana datangnya, membawanya berhasil melewati race lari, seperti pada di MesaStila Challenge Ultra 100 km dengan gain elevasi 7500 m (setara dengan 6x mendaki gunung Lawu) dalam waktu 29 jam.

Begitu pula dengan pengalamannya di Ultra Trail Hongkong dengan jarak 156 km dengan gain elevasi 7500 m dalam waktu 47 jam tanpa tidur sama sekali. Mila mengungkapkan berat badannya turun 3 kg, dan ketika mencapai finish ia justru tidak menyangka di saat kondisi tubuhnya yang kian melemah, semua orang justru memuji kekuatannya karena telah mencapai finish. Baginya, yang harus dilakukan hanyalah tetap berjuang.

Pelari yang juga alumni SMA Negeri 3 Surakarta ini mengungkapkan bahwa dalam suatu lomba ultra trail run, ia selalu dihadapkan pada kondisi dimana dirinya sendirian di tengah kebun, hutan, bahkan gunung. “Yang selalu saya ucapkan dalam hati adalah ‘Tuhan..sertai saya’. Itu saja.”

 

Mila Marlina: Pelari Wanita Pertama Indonesia di 3 Besar Asia Trail Master

Jika Haruki Murakami dalam bukunya What I Talk About When I Talk About Running, ia mulai berlari pada 1982, dan puluhan tahun ia melatih diri dalam bidang lari. Beda halnya dengan Mila Marlina, ia mulai aktif lari ketika umur 42 tahun. Yang mengundang decak kagum, Mila di usianya yang ke-45 tahun justru mendapat poin yang mencukupi untuk mengikuti UTMB.

Terdapat beberapa kriteria lari maraton, ada Full Marathon (FM) dengan jarak 42,195 km. Lalu, ada pula Half Marathon (HM) berjarak 21,1km. Selain FM dan HM, ada pula kategori lari 10 K, 5 K. Sedangkan yang berbeda yaitu Ultra Marathon adalah jarak di atas Full Marathon, ada 50 km, 70 km, 100 km, 170 km, 200 km, 320 km dan seterusnya. Hal inilah yang akhirnya memacu para pelari untuk menaikkan standar kriteria jarak juga tantangan di setiap kegiatan larinya, sebagaimana halnya yang dilakukan Mila Marlina.

Tiga tahun perjalanannya dalam meraih prestasi di bidang lari, membawanya pada ajang bergengsi dalam dunia lari yaitu UTMB. Peringkat Mila sebagai pelari di Asia, awalnya ia menduduki peringkat pertama, namun peringkat tersebut ditunggu hingga akhir tahun sesuai poin yang dikumpulkan berbagai pelari dari penjuru dunia. Mila menduduki peringkat klasemen 2nd Asia Trail Master 2015. Untuk pertama kalinya Indonesia memiliki pelari wanita di 3 Besar Asia Trail Master, menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara besar lain dalam bidang trail run.

Mila belajar banyak dari berlari. Tokoh pelari yang menginspirasinya untuk tetap belajar dalam bidang lari adalah Hendra Wijaya. Pelari yang lebih dahulu berjaya dengan beragam prestasi dan gelar yang ia sandang sebagai pelari ultra trail Indonesia. Mila mengungkapkan banyak belajar dari beberapa senior salah satunya Hendra Wijaya. Begitu pula dengan figur lain yaitu Herwanto dan Ronny. Bahkan terdapat kisah tentang dukungan pelari legendaris Malaysia Mohd. Puzi Dolah yang memberikan support bagi Mila saat ia menyerah di race saat di Malaysia. Ia menolak disebut menyerah terlalu cepat, bahkan ketika kondisi tubuhnya tak memungkinkan untuk melanjutkan lari.

Usia bukan menjadi halangan bagi Mila Marlina untuk berprestasi. Baginya, Tidak ada yang kita kalahkan, yang kita kalahkan hanya diri sendiri, tanpa harus bersaing”. Begitu pula dengan batas-batas yang kita ciptakan sendiri. Mila berpesan ‘Jangan dulu memberikan batasan-batasan akan apa yang mungkin dan tidak mungkin, bisa dan tidak bisa untuk dilakukan sebelum kita mencobanya.

Buat kamu yang suka jogging sama temen-temenmu atau pacar, udah rencana berangkat tapi batal jogging? Buruan agendain deh buat jaga fisik dan staminamu dengan olahraga. Mosok kalah sama Cik Mila.

Candu berlari dengan menantang diri sendiri untuk mencapai target yang lebih tinggi adalah hal yang inspiratif dari sosok Mila Marlina. Jangan hanya candu kepada hal-hal yang negatif seperti Narkoba ya Guys.

Say No To Narkoba, Guys. Sikat Narkoba, Masyarakat Sehat, Pariwisata Kuat, sesuai dengan tema acara Wonderful Solo SahuRun yang akan diadakan pada Sabtu-Minggu, 17-18 Juni 2017 tengah malam nanti. Meski puasa, tetap sehat. Akan ada pula aksi bagi nasi santap sahur oleh Kopral Bagyo. Penasaran seperti apa keseruan Wonderful Solo SahuRun? Ada Cik Mila juga lho di acara ini. Tetap simak ulasan menarik lain seputar Solo Raya di www.wonderfulsolo.com ya.

Wonderful Solo, Ayo ke Solo!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here