Belanja Batik di Solo: Menyusuri Kampung Batik Laweyan Lorong Gang Unik nan Bersejarah Kawasan Heritage Solo

0
3576

laweyan-1

Di Solo ada tempat istimewa yang one package atau 4 in 1 destination. Jadi, anda bisa wisata belanja, wisata budaya, wisata sejarah, plus wisata edukasi dilakukan sekaligus di satu lokasi. Kampung Batik Laweyan Solo, merupakan salah satu kawasan heritage di Solo yang layak untuk dikunjungi saat kamu bertandang ke kota Bengawan.

 

Letaknya tidak jauh dari Stasiun Purwosari. Bisa dengan menggunakan becak yang berada di sepanjang tepi jalan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi, anda dapat diantar menyusuri Kampung Batik Laweyan yang khas dengan lorong-lorong gang kecil. Jalan menuju Laweyan ini merupakan jalan protokol kedua setelah Jalan Slamet Riyadi yang menghubungkan kota Solo dan Jogja.

laweyan-2

 

Kampung Batik Laweyan merupakan satu daerah di Solo yang memiliki berbagai keistimewaan, terutama karena hadirnya kelompok pengusaha batik Jawa. Kampung saudagar, rumah dengan tembok menjulang tinggi, lorong-lorong gang sempit akan anda temui di Kampung Batik Laweyan. Meski terkesan tertutup, jika anda menilik lebih dalam interior rumah di kawasan Batik Laweyan, tak heran akan mengundang decak kagum. Interior rumah yang dimiliki para saudagar batik ini memiliki keunikan dan kemegahan layaknya istana keraton Jawa.

 

Sejarah mencatat perjalanan panjang kampung ini di masa kejayaannya di masa silam hingga kini menjadi destinasi wisata yang menyimpan beragam cerita. Mau tahu cerita tentang Kampung Batik Laweyan?

 

Laweyan di Masa Lalu

Sebut saja Kyai Ageng Henis atau Kyai Ageng Laweyan, adalah nama yang lekat dengan asal usul Kampung Laweyan. Salah satu keturunan Raja Brawidjaya V yang bermukim di daerah tersebut pada tahun 1546 M. Kyai Ageng Henis juga mengajarkan teknik pembuatan batik tulis pada santrinya. Makam beliau pun terdapat di kawasan makan Laweyan, hingga kini masih dikunjungi oleh para peziarah.

laweyan-3 laweyan-4

 

Selain Kyai Ageng Henis, ada nama lain yang tak terpisahkan dari sejarah Kampung Batik Laweyan. Di masa kolonial, tahun 1905 terdapat seorang saudagar batik bernama K.H. Samanhudi memprakarsai terbentuknya Serikat Dagang Islam, ia berhasil menghimpun para saudagar batik muslim Bumiputera yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton.

 

Atas jasa-jasa K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi. Hingga kini rumah K.H. Samanhudi masih ada dan ditempati oleh cucu dan keturunannya. Untuk mengenang jasanya, di kawasan ini juga didirikan Museum Samanhudi.

 

Baca juga : Museum Samanhudi

 

Laweyan di masa lalu pernah menjadi pusat perdagangan karena letaknya di tepi Sungai Banaran yang terhubung dengan Sungai Bengawan Solo, 5 km dari pusat kota Surakarta.

Di sungai ini terdapat Bandar Kabanaran tempat berlabuh perahu-perahu sebagai arus perdagangan terutama komoditas benang lawe dan selanjutnya batik. Awal mulanya daerah Laweyan banyak ditumbuhi pohon kapas untuk benang lawe. Sebutan benang lawe digunakan untuk kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian.

Kini, masih bisa kita temui sungai dengan jembatan yang menghubungkan daerah tempat tinggal buruh di bagian selatan kota (lingkungan kecamatan Grogol) dengan daerah kerja yang terletak di dalam kota.

laweyan-5

Peresmian Jembatan Laweyan di tahun 1959 disambut suka cita warga.

Sumber: Arsip Komunitas Moeara ‘Madjalah Batari’ no.7 Tahun 1959

 

laweyan-jembatan

 

‘Madjallah Batari’ No. 7 Tahun IV Maret 1959 menyebutkan bahwa peran Laweyan yang besar ditunjukkan dari salah satu liputan tentang pembukaan Jembatan Laweyan, 10 Februari 1959 diresmikan pembukaan Jembatan Laweyan. Masyarakat menyambut dengan gegap gempita, dengan melakukan sembahyang bersama tengah malam sebagai pernyataan syukur atas dibangunnya jembatan tersebut. Diadakan pula pertunjukan wayang dalang Ki Nototjarito yang mengambil cerita “Romo Tambak”.

Dahulu terdapat pengelompokan sosial dalam masyarakat Laweyan, yaitu kelompok wong saudagar (pedagang), wong cilik  (orang kebanyakan), wong mutihan (Islam atau alim ulama) dan wong priyayi (bangsawan atau pejabat).

 

laweyan-7

 

Di kalangan saudagar atau juragan batik, kaum wanita memegang peranan dalam menjalankan perdagangan batik yang biasa disebut dengan istilah mbok mase atau nyah nganten. Para suami disebut mas nganten berperan sebagai pelengkap keutuhan keluarga. Mbok mase ini merupakan simbol etos kerja perempuan Jawa yang berhasil dalam mengembangkan industri batik di Laweyan. Sebutan ini muncul dari para wong cilik.

 

Yang Kamu Dapat dari Wisata di Kampung Batik Laweyan

Menyusuri gang di Kampung Batik Laweyan anda akan mendapati sekitar 70 toko/showroom penjualan aneka kerajinan batik dan souvenir, dengan kualitas dan motif berbeda dibanding produk di pasar atau mal.

laweyan-11

 

Selain wisata belanja, anda bisa berwisata edukasi dengan mengikuti pelatihan singkat kewirausahaan kerajinan batik di beberapa rumah produksi seperti Batik Cempaka, Batik Mahkota Laweyan, Batik Puspa Kencana, Batik Putra Laweyan, serta Batik Merak Manis.

laweyan-12

 

Selain melihat proses membatik, pengunjung dapat belajar membuat kain batik mulai dari selembar kain mori putih hingga menjadi selembar batik. Biasanya belajar membuat kain batik ini bagi anak-anak menjadi hal yang menyenangkan bisa berkreasi dengan melukis batik buatannya sendiri. Seru lho! Atraksi tradisional seperti Wayang Orang / Wayang Lugu bisa anda temukan di Laweyan.

 

laweyan-13

 

Kampung Batik Laweyan pun dilengkapi sarana cukup lengkap mulai dari hotel dan homestay, restoran/kafé, gedung pertemuan, masjid, Laweyan Batik Training Centre, Pusat Pelatihan Budaya Jawa, pasar, dan koperasi.

 

 

Sebuah Catatan tentang Batik

Kata ‘batik’ berasal dari bahasa Jawa kata amba dan nitik. Amba berarti menulis atau menggambar, sedangkan nitik berarti membuat titik-titik. Batik atau kain batik dapat diartikan sebagai seni gambar di atas kain menggunakan malam atau lilin untuk menahan warna dengan berbagai corak dan warna tertentu.

laweyan-8

 

Teknik perintang warna menggunakan malam dengan alat yang bernama canting diyakini ditemukan dan hanya berawal dari Indonesia dengan menyebut “batik” untuk mendeskripsikan teknik tersebut yang tepatnya dari bahasa Jawa.

laweyan-9

 

Keunikan dalam proses pembuatan batik dan coraknya menjadikan batik memiliki citra kebudayaan Jawa yang tergambarkan dalam corak dan motifnya. Batik tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, melainkan telah dikenal masyarakat di luar negeri pula. Seni batik berkembang dan menyebar terutama di Pulau Jawa.

laweyan-10

 

 

Kampung Laweyan memiliki peran cukup penting dalam sejarah perkembangan kota Solo yaitu sebagai penghasil batik tulis, cap, dan kombinasi tulis cap serta printing. Kampung Laweyan telah muncul dan membawa batik Solo dikenal oleh khalayak masyarakat luas. Tekstur pengerjaan batik dengan keuletan dan ketrampilan yang dimiliki penduduk Laweyan kini telah turun-temurun dikuasai di Laweyan.

laweyan-14

 

Penasaran dengan keindahan dan pesona wisata batik di Kampung Batik Laweyan? Mau tahu lebih banyak tentang batik dan siap mborong batik buat tampil fashionable tapi tetap menghargai karya bangsa?

 

Ayo ke Solo!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here